DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

Penulis : W.K Orion

BAB 3
PERMAINAN YANG LEBIH GELAP

Langkah Adrian terhenti tepat beberapa meter dari pria berjas abu-abu itu.

Suasana di sekitar mereka terasa berubah.

Beberapa orang yang tadi masih duduk santai mulai memperhatikan.

Insting mereka mengatakan—ini bukan sekadar permainan biasa lagi.

Pria berjas abu-abu itu perlahan berbalik.

Tatapannya tenang seperti sebelumnya.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Sedikit lebih tajam.

Sedikit lebih waspada.

“Masih belum puas?” tanyanya ringan.

Adrian berdiri tegak.

Tatapannya lurus.

“Kita main lagi.” kata Adrian.

Beberapa orang di sekitar meja mulai berbisik.

Riko yang berdiri di belakang Adrian langsung menarik lengannya pelan. “Sudah, jangan,” bisiknya. “Kita pergi saja.”

Namun Adrian tidak bergerak.

Ia bahkan tidak menoleh.

Fokusnya hanya pada satu orang.

Pria itu.

Pria yang baru saja mengambil bukan hanya uangnya… tapi juga harga dirinya.

“Taruhan terakhir,” lanjut Adrian. “Satu lawan satu.”

Pria berjas itu mengangkat alis.

Seolah tertarik.

“Atau kau takut?” tambah Adrian pelan.

Kalimat itu cukup untuk membuat suasana membeku sejenak.

Beberapa detik.

Lalu

Pria itu tersenyum.

Senyum yang tidak hangat.

Senyum yang penuh perhitungan.

“Baik,” katanya. “Satu permainan lagi.”

Riko mengumpat pelan di belakang. “Adrian, ini bukan ide bagus…”

Namun Adrian sudah melangkah maju.

Ia duduk kembali di kursinya.

Kali ini hanya mereka berdua di meja.

Dealer yang tadi sempat ragu akhirnya kembali ke posisinya.

Lampu terasa semakin redup.

Seolah dunia di luar meja itu tidak lagi penting.

Adrian merogoh sakunya.

Kartu akses VIP-nya.

Lalu mengeluarkan ponsel.

Beberapa detik ia mengetik.

Transfer.

Nominal besar.

Sangat besar.

Chip kembali ditumpuk di depannya.

Lebih banyak dari sebelumnya.

Riko terdiam.

“Gila…” gumamnya.

Pria berjas itu memperhatikan dengan tenang.

“Berani juga,” katanya.

Adrian tidak menjawab.

Ia hanya menatap lurus.

Namun di dalam pikirannya, semuanya bekerja cepat.

Ia mengingat setiap gerakan tadi.

Setiap pola.

Setiap kebiasaan kecil.

Dan yang paling penting

Ia tahu sekarang bahwa permainan tadi tidak bersih.

Artinya…

Ia tidak bisa bermain seperti biasa.

Ia harus berpikir berbeda.

Dealer mulai membagikan kartu.

Adrian menerima dua kartu.

Ia tidak langsung melihat.

Ia menarik napas panjang.

Lalu

Perlahan membukanya.

Kartu yang cukup.

Tidak sempurna.

Namun bisa dimainkan.

Ia melirik sekilas ke arah balkon atas.

Pria yang tadi disebut Alya masih ada di sana.

Berdiri di tempat yang sama.

Mengawasi.

Adrian menyipitkan mata.

“Baik…” gumamnya dalam hati.

Permainan dimulai.

Taruhan awal berjalan normal.

Namun Adrian memperhatikan sesuatu.

Setiap kali kartunya dibuka

Pria di balkon itu sedikit menggerakkan jarinya.

Sangat halus.

Seperti sinyal.

Dan pria berjas di depannya…

Selalu bereaksi beberapa detik setelah itu.

Bukan kebetulan.

Ini permainan yang diatur.

Namun Adrian tidak menunjukkan apa pun.

Ia tetap bermain seperti biasa.

Santai.

Sedikit ceroboh.

Bahkan beberapa kali ia sengaja kalah kecil.

Memberi kesan bahwa ia tidak menyadari apa-apa.

Pria berjas itu mulai lebih percaya diri.

Taruhannya naik.

Senyumnya semakin sering muncul.

Namun Adrian justru semakin tenang.

Ia menunggu.

Satu momen.

Satu celah.

Putaran berikutnya.

Kartu di tangan Adrian kali ini lebih baik.

Dan kartu di meja… mendukung.

Ia melihat peluang.

Namun ia tidak langsung bertaruh besar.

Ia hanya mengikuti.

Menunggu reaksi lawan.

Seperti dugaan

Pria itu menaikkan taruhan cukup tinggi.

Dan lagi-lagi, gerakan kecil dari balkon terlihat.

Adrian menahan senyum.

Ia mulai memahami pola.

Semakin jelas.

Semakin terbaca.

“Call,” kata Adrian santai.

Putaran berikutnya.

Taruhan naik lagi.

Kali ini lebih besar.

Riko di belakang Adrian sudah mulai gelisah.

“Kita bisa berhenti sekarang…” bisiknya.

Namun Adrian menggeleng pelan.

Belum.

Belum waktunya.

Kartu terakhir dibuka.

Dan di situlah

Semua menjadi jelas.

Adrian tahu persis posisi mereka sekarang.

Ia tahu kemungkinan kartu lawannya.

Dan ia tahu

Ini saatnya.

“All in.”

Suara chip yang didorong ke tengah meja terdengar berat.

Beberapa orang langsung menarik napas.

Ini taruhan besar.

Sangat besar.

Pria berjas itu terdiam.

Untuk pertama kalinya.

Matanya sedikit berubah.

Ia melirik sekilas ke arah balkon.

Namun kali ini

Gerakan dari atas sedikit terlambat.

Atau… ragu.

Beberapa detik berlalu.

Dan dalam permainan seperti ini

Detik bisa terasa seperti menit.

Adrian menatapnya tanpa berkedip.

Tenang.

Pasti.

Dan itu membuat pria di depannya mulai goyah.

“Yakin?” tanya pria itu.

Adrian hanya tersenyum tipis. “Kau yang harusnya menjawab itu.”

Sunyi.

Hanya suara musik dari kejauhan.

Dan detak jantung yang terasa semakin keras.

Pria itu akhirnya

“Call.”

Kartu dibuka.

Semua mata tertuju pada meja.

Dan dalam satu momen singkat

Segalanya berubah.

Adrian menang.

Bukan hanya menang.

Ia membalikkan keadaan.

Semua chip kembali padanya.

Bahkan lebih banyak.

Namun Adrian tidak tersenyum.

Tidak menunjukkan kemenangan.

Ia hanya menatap pria itu.

Dalam.

Dan berkata pelan “Permainan yang bagus.”

Namun kali ini

Nada suaranya yang terdengar seperti sindiran.

Pria berjas itu menatapnya.

Lama.

Seolah mencoba membaca sesuatu.

Lalu

Ia tersenyum kecil. “Kau belajar cepat.”

Adrian tidak menjawab.

Namun di dalam dirinya

Ia tahu ini belum selesai.

Pria itu berdiri.

Mengambil jasnya.

Lalu sebelum pergi

Ia berkata pelan. “Kita akan bertemu lagi.”

Kalimat itu bukan ancaman.

Namun juga bukan basa-basi.

Lebih seperti…

Janji.

Pria itu pergi.

Dan pria di balkon atas juga menghilang.

Secepat mereka muncul.

Seolah tidak pernah ada.

Suasana perlahan kembali normal.

Namun tidak bagi Adrian.

Ia duduk diam beberapa detik.

Mencoba mencerna semuanya.

Riko langsung mendekat.

“Gila… kau menang!” katanya setengah berbisik.

Adrian hanya mengangguk.

Namun wajahnya tetap serius.

“Ini bukan tentang menang atau kalah,” katanya pelan.

Riko mengernyit. “Maksudmu?”

Adrian berdiri.

Matanya menyapu ruangan.

Mencari satu orang.

Alya.

Namun wanita itu sudah tidak ada di sana.

Seolah menghilang.

Sama seperti munculnya.

“Dia tahu,” gumam Adrian.

“Apa?” tanya Riko

“Wanita itu… dia tahu semuanya dari awal.” jawab Adrian

Riko mengangkat bahu. “Ya, dan kau hampir tidak mendengarkannya.”

Adrian tersenyum tipis. “Iya… hampir.”

Ia mengambil jaketnya.

Dan mengumpulkan chip.

Namun kali ini

Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.

Sebuah kesadaran.

Bahwa dunia yang ia masuki ini…

Lebih dalam.

Lebih gelap.

Dan jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.

Beberapa menit kemudian, Adrian keluar dari klub.

Udara malam terasa lebih dingin.

Lebih nyata.

Ia berdiri sejenak di samping mobilnya.

Menatap jalanan.

Lampu kota.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama

Ia tidak merasa puas setelah menang.

Ia justru merasa…

Masuk lebih dalam ke sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Adrian membuka.

Hanya satu kalimat.

“Kau membuat kesalahan dengan kembali ke meja itu.”

Adrian menatap layar.

Lalu tersenyum tipis.

“Kalau ini kesalahan…” gumamnya pelan.

“…aku ingin tahu seberapa jauh ini bisa berjalan.”

Ia masuk ke dalam mobil.

Mesin dinyalakan.

Namun sebelum ia benar-benar pergi

Seseorang mengetuk jendela mobilnya.

Adrian menoleh.

Dan di sana

Alya.

Berdiri.

Dengan ekspresi serius.

Adrian menurunkan kaca jendela.

“Kau menghilang,” katanya.

Alya tidak tersenyum.

“Kau menang,” katanya singkat.

“Ya.” jawab Adrian

“Dan sekarang kau dalam masalah.” tambah Alya

Adrian tertawa kecil. “Aku sudah sering dalam masalah.”

Alya menggeleng pelan. “Kali ini berbeda.”

Adrian menatapnya.

Lebih serius.

“Apa yang kau tahu?” tanya Adrian

Alya terdiam sejenak.

Lalu berkata pelan “Orang yang kau lawan tadi… bukan pemain biasa.”

“Aku sudah tahu.” jawab Adrian

“Dia bekerja untuk seseorang.” tambah Alya

Adrian mengernyit. “Seseorang?”

Alya mengangguk. “Dan orang itu tidak suka kalah.”

Sunyi sejenak.

Angin malam berhembus pelan.

Adrian menatap Alya.

Mencoba membaca.

Namun seperti sebelumnya

Wanita ini sulit ditebak.

“Kenapa kau peduli?” tanya Adrian akhirnya.

Alya tidak langsung menjawab.

Ia menatap Adrian beberapa detik.

Lalu

“Karena kau tidak terlihat seperti orang yang pantas hancur di dunia seperti ini.” jawab Alya

Kalimat itu membuat Adrian terdiam.

Ada sesuatu dalam nada suara Alya.

Jujur.

Tanpa kepentingan.

Dan itu… jarang.

Sangat jarang.

Adrian tersenyum tipis. “Kalau begitu… mungkin kau harus membantuku keluar.”

Alya menatapnya.

Lama.

Lalu berkata pelan “Masalahnya… kau tidak sedang keluar.”

Ia mundur satu langkah.

Tatapannya tetap pada Adrian. “Kau baru saja masuk.”
Dan tanpa menunggu jawaban

Alya berbalik.

Berjalan pergi.

Meninggalkan Adrian dengan pikirannya sendiri.

Dan satu perasaan yang semakin jelas

Bahwa hidupnya…

Tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.

Dan ketika Adrian pulang malam itu

Ia tidak tahu bahwa seseorang sudah menunggunya di apartemennya…

Dengan informasi yang bisa menghancurkan bukan hanya dirinya… tapi seluruh keluarganya.



👈 Bab Sebelumnya                                                                 Bab Berikutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)