Sunyi.
Hanya suara mesin kendaraan lain yang sesekali lewat dan gema langkah kaki dari kejauhan.
Ia duduk beberapa detik di balik kemudi.
Tangannya masih menggenggam setir.
Pikirannya belum benar-benar lepas dari apa yang terjadi malam ini.
Meja poker.
Pria berjas abu-abu.
Sinyal dari balkon.
Pesan misterius.
Dan Alya.
Terutama Alya.
Wanita itu datang tiba-tiba, tahu terlalu banyak, lalu pergi seolah semuanya bukan urusannya.
Namun kata-katanya terus terngiang.
“Kau baru saja masuk.”
Adrian menghela napas panjang.
“Masuk ke apa?” gumamnya pelan.
Ia membuka pintu mobil dan keluar.
Udara basement terasa dingin.
Langkahnya mantap menuju lift.
Setiap langkah terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Bukan karena lelah.
Tapi karena pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak ia sukai.
Lift terbuka.
Adrian masuk.
Menekan tombol lantai atas.
Pintu menutup perlahan.
Dan di dalam ruang sempit itu
Untuk pertama kalinya malam ini
Ia benar-benar sendirian.
Tanpa musik.
Tanpa keramaian.
Tanpa distraksi.
Hanya dirinya dan pikirannya sendiri.
Angka di panel lift bergerak naik.
5…
8…
12…
Adrian menatap pantulan dirinya di dinding stainless lift.
Wajahnya tetap tenang.
Namun matanya…
Lebih tajam.
Lebih waspada.
Ia bukan orang bodoh.
Ia tahu permainan tadi bukan hal kecil.
Dan orang-orang seperti itu…
Tidak akan diam setelah kalah.
“Kalau ini mulai masuk ke urusan serius…” gumamnya.
“…aku harus siap.”
Ding.
Lift berhenti.
Pintu terbuka.
Koridor apartemen tampak sepi.
Lampu putih menyala terang.
Namun suasana terasa… berbeda.
Ada sesuatu yang tidak biasa.
Adrian melangkah keluar.
Sepatunya bergema pelan di lantai marmer.
Langkah demi langkah mendekati unitnya.
Dan semakin dekat
Perasaan itu semakin kuat.
Sesuatu tidak beres.
Ia berhenti tepat di depan pintu apartemennya.
Kunci masih di sakunya.
Namun
Pintu itu…
Tidak tertutup rapat.
Ada celah kecil.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk terlihat.
Adrian langsung menegang.
Refleksnya bekerja cepat.
Tangannya perlahan masuk ke dalam jaket.
Menggenggam sesuatu.
Bukan senjata.
Namun cukup untuk berjaga.
Ia mendorong pintu perlahan.
Ceklek.
Pintu terbuka tanpa suara.
Gelap.
Tidak ada lampu menyala di dalam.
Namun Adrian tidak langsung masuk.
Ia berdiri di ambang pintu.
Mendengarkan.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Ia melangkah masuk.
Pelan.
Pintu ditutup di belakangnya.
Klik.
Adrian meraba dinding.
Menyalakan lampu.
Dan dalam satu detik
Seluruh ruangan terang.
Dan di sana
Seseorang duduk di sofa ruang tamunya.
Dengan santai.
Seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Seorang pria.
Sekitar usia empat puluh lima.
Berpakaian rapi.
Jas gelap.
Kemeja putih.
Tanpa dasi.
Wajahnya tenang.
Namun matanya tajam.
Dan di tangannya
Segelas minuman.
Ia bahkan tersenyum ketika melihat Adrian.
“Akhirnya pulang juga,” katanya santai.
Adrian berdiri diam.
Namun seluruh tubuhnya siaga.
“Siapa kau?” tanyanya dingin.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia menaruh gelasnya di meja.
Lalu berdiri perlahan.
Gerakannya tenang.
Terukur.
Seolah tidak merasa terancam sama sekali.
“Nama saya tidak terlalu penting,” katanya.
“Yang penting… saya di sini karena Anda.” lanjutnya
Adrian menyipitkan mata.
“Masuk ke rumah orang tanpa izin bukan cara yang bagus untuk memulai percakapan.” sahut Adrian
Pria itu tersenyum tipis. “Kadang… cara terbaik adalah yang paling langsung.”
Adrian tidak menyukai ini.
Sama sekali.
“Keluar,” kata Adrian tegas.
Namun pria itu tetap berdiri di tempatnya.
Tidak bergerak.
“Kalau saya keluar sekarang… Anda akan membuat kesalahan besar,” katanya pelan.
Kalimat itu cukup untuk membuat Adrian berhenti.
“Jelaskan.” kata Adrian
Pria itu mengambil sesuatu dari dalam jasnya.
Bukan senjata.
Sebuah amplop.
Ia melemparkannya ke meja.
Tepat di depan Adrian.
“Buka.” suruh pria itu
Adrian tidak langsung bergerak.
Namun beberapa detik kemudian
Ia melangkah maju.
Mengambil amplop itu.
Membukanya.
Dan ketika ia melihat isi di dalamnya
Wajahnya berubah.
Foto.
Beberapa foto.
Dirinya.
Di klub malam.
Di meja poker.
Dengan berbagai orang.
Namun bukan itu yang membuatnya tegang.
Foto berikutnya
Dokumen.
Transaksi.
Rekening.
Dan
Nama perusahaan keluarganya.
Mahendra Group.
Adrian mengangkat wajahnya.
Tatapannya kini lebih tajam.
“Dari mana kau dapat ini?” tanya Adrian
Pria itu tersenyum kecil. “Kami punya cara.”
Adrian mengepalkan rahang. “Maumu apa?”
Akhirnya.
Pertanyaan yang ditunggu.
Pria itu berjalan perlahan.
Mengitari meja.
Lalu berhenti tepat di depan Adrian.
“Kerja sama.” sahutnya
Adrian tertawa kecil.
Namun tanpa humor.
“Dengan cara seperti ini?” sahut Adrian
Pria itu mengangkat bahu. “Lebih efektif.”
Sunyi sejenak.
Adrian mencoba menahan emosinya.
Ia tidak boleh terbawa.
Tidak sekarang.
“Kerja sama apa?” tanyanya.
Pria itu menatap langsung ke matanya. “Mahendra Group.”
Adrian langsung kaku.
“Perusahaan itu… sedang dalam posisi yang menarik,” lanjut pria itu.
“Ayah Anda meninggal. Anda baru mengambil alih. Banyak keputusan besar harus dibuat.” lanjutnya
Adrian tidak menjawab.
Namun pikirannya bergerak cepat.
Pria ini tahu terlalu banyak.
“Dan kami… bisa membantu,” tambahnya.
“Dengan syarat.” lanjutnya kembali
Adrian menatapnya dingin. “Katakan.”
Pria itu tersenyum. “Kami ingin akses.”
“Akses apa?” tanya Adrian
“Beberapa proyek. Beberapa aliran dana. Dan… beberapa keputusan strategis.” jawab pria itu
Adrian langsung menggeleng. “Tidak mungkin.”
Pria itu tidak terkejut.
Seolah sudah mengantisipasi.
“Pikirkan lagi,” katanya pelan.
Ia menunjuk ke arah amplop.
“Semua ini… bisa menjadi masalah besar bagi Anda.” sahut pria itu
Adrian menatap foto-foto itu.
Lalu kembali ke pria itu. “Ini ancaman?”
Pria itu tersenyum tipis. “Saya lebih suka menyebutnya… peluang.”
Adrian mendekat.
Tatapannya tajam.
“Dengar baik-baik,” katanya pelan namun tegas.
“Aku tidak bekerja dengan orang yang masuk ke rumahku tanpa izin dan mencoba memeras aku.” sahut Adrian dengan tegas
Suasana menegang.
Beberapa detik.
Namun pria itu justru tertawa kecil.
“Menarik,” katanya.
Ia mengambil gelasnya kembali.
Meneguk sedikit. “Berarti Anda memilih jalan yang sulit.”
Adrian tidak mundur.
“Keluar dari rumahku.” bentak Adrian
Pria itu mengangguk pelan. “Baik.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar
Ia berhenti.
Tanpa menoleh.
“Permainan tadi malam… hanya awal.” lanjut pria itu
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
“Dan percayalah… dunia ini jauh lebih besar dari satu meja poker.” lanjutnya lagi
Ia membuka pintu.
“Ketika Anda berubah pikiran… kami akan tahu.”
Pintu tertutup.
Klik.
Sunyi.
Adrian berdiri diam.
Beberapa detik.
Lalu
Ia menghembuskan napas panjang.
Tangannya meraih meja.
Menahan diri.
Pikirannya berputar cepat.
Ini bukan lagi soal malam.
Ini bukan lagi soal judi.
Ini
Masuk ke bisnis.
Dan bukan bisnis biasa.
Ia melihat kembali isi amplop.
Setiap detail.
Setiap foto.
Setiap dokumen.
Dan satu hal menjadi jelas
Mereka sudah mengawasinya cukup lama.
“Siapa kalian…” gumamnya.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Nomor tidak dikenal lagi.
“Selamat datang di permainan yang sebenarnya.”
Adrian menatap layar.
Lalu tersenyum tipis.
Namun kali ini
Bukan senyum santai.
Melainkan senyum seseorang yang mulai memahami medan perang.
“Kalau ini permainan…” katanya pelan.
“…aku tidak akan kalah.”
Namun jauh di dalam dirinya
Ia tahu.
Ini bukan permainan biasa.
Dan setiap langkah yang ia ambil mulai sekarang…
Bisa menghancurkan semuanya.
Kariernya.
Perusahaannya.
Dan mungkin
Dirinya sendiri.
Adrian berjalan menuju jendela.
Melihat ke arah kota yang masih hidup di malam hari.
Lampu-lampu menyala.
Seolah tidak pernah tidur.
Seperti dunia yang baru saja menariknya masuk.
Dan untuk pertama kalinya
Ia menyadari satu hal penting.
Bahwa ia tidak lagi berjalan di dua dunia.
Dunia malam dan dunia bisnis.
Keduanya…
Telah menjadi satu.
Dan itu
Jauh lebih berbahaya.
Dan saat Adrian mengira ia masih bisa mengendalikan keadaan
Ia belum tahu bahwa seseorang dari masa lalunya akan kembali…
Dengan rahasia yang bisa menghancurkan semua yang sedang ia bangun.
Komentar
Posting Komentar