DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 10)
Penulis : W.K Orion
BAB 10
REKAMAN YANG TIDAK PERNAH DIHAPUS
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Padahal Jakarta tidak pernah benar-benar diam.
Dari jendela apartemen lantai tinggi milik Adrian, lampu kota masih menyala seperti lautan kecil yang tidak pernah padam.
Namun di dalam ruangan itu
Semua terasa jauh.
Hening.
Dan berat.
Adrian berdiri di depan jendela dengan segelas air di tangan, sementara di atas meja ruang tamu tergeletak tiga benda yang sejak tadi belum ia sentuh lagi.
Flashdisk hitam.
Amplop cokelat.
Dan surat ayahnya.
Surat yang belum berhenti menghantui pikirannya.
Ayah Alya meninggal karena melindungiku.
Kalimat itu terus terulang.
Seperti gema.
Tidak keras.
Namun tidak mau hilang.
Adrian menutup mata.
Mencoba menenangkan pikirannya.
Namun justru wajah Alya yang muncul.
Tatapan matanya di rumah tadi.
Tidak membela diri.
Tidak menyangkal.
Tidak memohon.
Hanya diam.
Dan itu justru lebih mengganggu.
Karena dalam diam itu, Adrian bisa melihat satu hal yang sulit ia abaikan
Alya juga terluka.
Dan bagian paling buruknya adalah
Ia tidak tahu siapa yang sebenarnya harus disalahkan.
Ayahnya.
Alya.
Arkana.
Atau dirinya sendiri karena mulai peduli terlalu jauh.
Adrian membuka mata.
Menaruh gelas di meja.
Tatapannya jatuh pada flashdisk hitam.
Benda kecil itu terlihat biasa.
Namun nalurinya mengatakan
Apa pun isi di dalamnya, hidupnya tidak akan sama setelah ia melihatnya.
Ia duduk perlahan.
Laptop dibuka.
Layar menyala.
Ruangan hanya diterangi cahaya dari monitor.
Tangannya berhenti sesaat di atas flashdisk.
Ragu.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tahu
Kadang kebenaran lebih berat daripada kebohongan.
Namun beberapa detik kemudian
Ia memasukkan flashdisk itu.
Laptop berbunyi pelan.
Satu folder muncul di layar.
Tanpa nama.
Hanya tanggal.
Tujuh tahun lalu.
Adrian menatap angka itu.
Tujuh tahun.
Tahun ketika hidup keluarganya mulai berubah.
Tahun ketika ayahnya menjadi jauh lebih dingin.
Tahun ketika Adrian mulai memilih menjauh dari rumah.
Mungkin semua sudah dimulai sejak saat itu.
Ia membuka folder.
Di dalamnya ada:
Beberapa file dokumen.
Dan satu file video.
Nama filenya singkat.
Ruang 17
Jantung Adrian berdetak lebih keras.
Ia menatap layar beberapa detik.
Lalu mengklik file itu.
Video mulai berjalan.
Awalnya gelap.
Buram.
Seperti rekaman CCTV lama.
Lalu perlahan gambar menjadi jelas.
Sebuah ruangan.
Kecil.
Seperti ruang pertemuan pribadi.
Tanggal di sudut layar menunjukkan:
12 Oktober – tujuh tahun lalu
Adrian langsung membeku.
Karena orang pertama yang masuk ke ruangan itu adalah
Ayahnya.
Adrian mendekat ke layar.
Napasnya perlahan menegang.
Ayahnya terlihat lebih muda.
Namun wajahnya sudah sama seperti yang Adrian kenal.
Tegas.
Tenang.
Penuh kendali.
Beberapa detik kemudian
Pintu terbuka lagi.
Pria kedua masuk.
Dan Adrian langsung mengenali wajah itu.
Dimas.
Sahabat ayahnya.
Orang yang memberinya kunci.
Mereka berbicara.
Namun tanpa suara.
Hanya gambar.
Adrian mempercepat sedikit.
Lalu
Pintu terbuka untuk ketiga kalinya.
Dan seseorang masuk.
Pria itu berdiri membelakangi kamera.
Tinggi.
Memakai jas hitam.
Gerakannya tenang.
Namun ketika ia menoleh sedikit
Darah Adrian seperti berhenti mengalir.
Karena ia mengenali wajah itu.
Bukan sepenuhnya.
Namun cukup.
Pria berjas abu-abu di meja poker.
Orang yang pertama kali menarik Adrian masuk.
“Tidak mungkin…”
Adrian memundurkan video.
Memutar ulang.
Sekali lagi.
Dan tetap sama.
Orang itu ada di sana.
Bersama ayahnya.
Bersama Dimas.
Tujuh tahun lalu.
Berarti semua ini memang bukan kebetulan.
Bukan masalah baru.
Semua sudah dimulai jauh sebelum Adrian sadar.
Ia terus menonton.
Percakapan di ruangan terlihat semakin tegang.
Dimas tampak marah.
Ayah Adrian berdiri.
Pria ketiga tetap tenang.
Lalu
Seseorang lain masuk ke ruangan.
Sangat cepat.
Dan kali ini
Adrian hampir menjatuhkan laptopnya.
Karena orang itu adalah
Ayah Alya.
Wajahnya mirip Alya.
Sangat mirip.
Dan dari ekspresi pria itu
Ia datang bukan sebagai tamu.
Ia datang dengan panik.
Membawa sesuatu.
Sebuah map.
Ia menyerahkannya pada ayah Adrian.
Ruangan menjadi kacau.
Mereka mulai berdebat.
Gerakan mereka cepat.
Tidak terdengar suara.
Namun Adrian bisa melihat
Ada ketakutan di sana.
Ada pengkhianatan.
Dan ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Lalu tiba-tiba
Lampu ruangan berkedip.
Rekaman sempat terputus beberapa detik.
Ketika gambar kembali
Ayah Alya sudah terjatuh di lantai.
Adrian membeku.
Matanya menatap layar tanpa berkedip.
Ayahnya berdiri di dekat meja.
Dimas tampak terkejut.
Pria berjas abu-abu tetap berdiri.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dan dari posisi tubuh
Jelas ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Sesuatu yang tidak terekam sempurna.
Namun cukup jelas untuk dimengerti.
Ayah Alya tidak bangun lagi.
Ruangan menjadi hening.
Ayah Adrian tampak membeku.
Dimas menoleh panik.
Namun pria berjas abu-abu itu
Malah tersenyum.
Lalu layar berhenti.
Video selesai.
Adrian tidak bergerak.
Tubuhnya kaku.
Tangannya dingin.
Pikirannya berusaha mengejar apa yang baru saja ia lihat.
Dan satu hal yang paling mengganggu
Ayahnya tidak terlihat seperti pembunuh.
Ia terlihat seperti seseorang yang baru sadar telah masuk terlalu jauh.
Adrian menutup laptop perlahan.
Namun tepat saat layar hampir tertutup
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar:
Alya
Adrian menatap nama itu cukup lama.
Jarinya hampir menolak.
Namun akhirnya
Ia mengangkat.
“Ya.” sahut Adrian
Beberapa detik tidak ada suara.
Lalu suara Alya terdengar pelan.
“Kau sudah lihat?” tanya Alya
Adrian menatap laptop.
“Ya.” jawab Adrian
Sunyi.
“Aku minta maaf,” kata Alya.
Adrian tertawa kecil.
Pahit.
“Untuk yang mana?” tanya Adrian
Suara Alya melemah.
“Untuk tidak jujur.” jawab Alya
Adrian berdiri.
Berjalan ke jendela.
Tatapannya kosong menatap kota.
“Kenapa kau simpan semua ini?” tanya Adrian
Alya terdiam.
Lalu menjawab. “Karena aku ingin tahu siapa yang benar.”
“Kau pikir sekarang kau tahu?” tanya Adrian
“Belum.” jawab Alya
Jawaban itu justru membuat Adrian berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Meski Alya tidak ada di sana.
“Artinya?” tanya Adrian kembali
“Video itu dipotong.” sela Alya
Adrian langsung diam.
“Apa?” tanya Adrian
“Ada bagian yang hilang.” jawab Alya cepat
Jantung Adrian berdetak lebih cepat.
“Dari mana kau tahu?” cecar Adrian
“Karena pamanku pernah bilang… yang terjadi malam itu tidak sesederhana yang semua orang percaya.” jawab Alya
Adrian memejamkan mata sesaat.
Tentu saja.
Tidak ada yang pernah sederhana.
Tidak dalam hidupnya sekarang.
“Lalu kenapa baru bilang?” tanya Adrian
“Karena aku tidak yakin kau masih mau bicara denganku.” jawab Alya pelan
Kalimat itu terdengar jujur.
Terlalu jujur.
Dan itu membuat Adrian sulit marah sepenuhnya.
Sunyi beberapa detik.
Lalu Adrian berkata pelan, “Di mana kau?”
Alya terdiam.
“Kenapa?” tanya Alya
“Karena aku mau lihat matamu saat kau cerita yang sebenarnya.” jawab Adrian
Beberapa detik.
Lalu Alya menjawab. “Aku di tempat yang sama seperti malam pertama kita bertemu.”
Adrian langsung tahu.
Eclipse Lounge.
Klub malam tempat semuanya dimulai.
Ia menutup telepon tanpa banyak kata.
Mengambil jaket.
Kunci mobil.
Dan flashdisk.
Karena sekarang
Ia tidak hanya butuh jawaban.
Ia butuh tahu
Apakah Alya bagian dari kebenaran…
Atau bagian dari kebohongan yang lebih besar.
-
Satu jam kemudian
Adrian berdiri di depan pintu klub yang sama.
Lampu neon yang sama.
Musik yang sama.
Namun malam ini semuanya terasa berbeda.
Karena sekarang
Ia datang bukan mencari pelarian.
Ia datang mencari jawaban.
Dan di dalam
Alya sudah menunggunya.
Sendirian.
Di meja yang sama.
Dengan tatapan yang jauh lebih jujur daripada pertama kali mereka bertemu.
Namun Adrian belum tahu
Malam ini bukan hanya Alya yang menunggunya.
Karena di sudut gelap ruangan
Seseorang lain sudah lebih dulu duduk.
Memperhatikan.
Dan menunggu saat yang tepat.
Ketika Adrian akhirnya duduk di hadapan Alya malam itu…
ia belum tahu bahwa orang yang muncul berikutnya akan mengungkap siapa pengkhianat sebenarnya di antara mereka.
👈 Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya 👉

Komentar
Posting Komentar