DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 2)

Penulis : W.K Orion

BAB 2
TARUHAN PERTAMA YANG TERLALU MAHAL


Suara dentuman musik dari lantai dansa terasa semakin jauh ketika Adrian duduk di meja poker.

Di sekelilingnya, suasana berubah.

Lebih tenang.

Lebih dingin.

Dan jauh lebih berbahaya.

Lampu di atas meja memantulkan cahaya kuning redup, cukup untuk menerangi kartu dan ekspresi wajah para pemain. Sisanya tenggelam dalam bayangan.

Adrian menarik napas pelan.

Tangannya memegang dua kartu.

Ia belum membukanya.

Namun suara wanita di belakangnya masih terngiang jelas di telinganya.

“Kau seharusnya tidak duduk di meja ini malam ini.”

Adrian tidak langsung menoleh.

Ia terbiasa dengan permainan psikologis seperti itu. Di dunia seperti ini, kata-kata bisa lebih tajam dari kartu.

Namun ada sesuatu dalam nada suara wanita itu.

Tenang.

Yakin.

Dan… terlalu serius untuk sekadar menggoda.

Adrian akhirnya membuka kartunya sedikit.

Sepasang kartu yang cukup kuat untuk memulai permainan.

Ia tersenyum tipis.

“Menarik,” gumamnya pelan.

“Semua pasang taruhan awal,” kata seorang pria di ujung meja.

Dealer mulai membagikan kartu di tengah.

Riko di sebelah Adrian menyenggol lengannya sedikit.

“Jangan terlalu serius, santai saja. Kita di sini buat senang-senang.” kata Riko

Adrian mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan.

Fokusnya mulai terkunci pada permainan.

Namun pikirannya masih terganggu.

Wanita itu.

Perlahan, ia menoleh.

Wanita itu masih berdiri di belakangnya.

Gaun hitam sederhana yang membentuk tubuhnya dengan elegan. Rambutnya panjang, tergerai rapi. Wajahnya tidak terlalu mencolok seperti wanita-wanita lain di klub itu.

Namun justru itu yang membuatnya berbeda.

Tatapannya.

Dalam.

Seolah bisa membaca sesuatu yang orang lain tidak bisa.

“Kau siapa?” tanya Adrian pelan, tanpa menoleh sepenuhnya.

Wanita itu tersenyum tipis. “Seseorang yang tidak ingin melihatmu kehilangan lebih banyak malam ini.”

Adrian mengernyit. “Kehilangan apa?”

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Ia melirik ke arah meja.

Ke arah salah satu pemain.

Seorang pria berjas abu-abu, berusia sekitar empat puluhan, dengan wajah tenang dan mata yang sulit ditebak.

Pria itu tampak biasa saja.

Terlalu biasa.

Dan itu justru mencurigakan.

“Dia bukan pemain biasa,” bisik wanita itu.

Adrian mengikuti arah pandangannya.

Pria berjas abu-abu itu sedang menyusun chip dengan santai, seolah tidak peduli dengan permainan.

Namun Adrian mulai memperhatikan sesuatu.

Gerakan tangannya terlalu rapi.

Ekspresinya terlalu stabil.

Dan… matanya sesekali melirik dengan sangat cepat ke arah kartu pemain lain.

Sangat halus.

Hampir tidak terlihat.

Namun Adrian cukup berpengalaman untuk menyadarinya.

“Kau kenal dia?” tanya Adrian.

Wanita itu menggeleng.

“Tapi aku pernah melihatnya sebelumnya. Dan setiap kali dia ada di meja… seseorang selalu pulang dengan kerugian besar.” lanjutnya

Adrian tersenyum tipis. “Aku tidak mudah kalah.”

Wanita itu menatapnya lebih dalam. “Itu yang semua orang pikirkan sebelum kalah.”

Kalimat itu membuat Adrian terdiam sejenak.

Dealer membuka kartu berikutnya.

Permainan mulai memanas.

Taruhan mulai naik.

Beberapa pemain mulai gugur.

Tersisa lima orang.

Adrian, Riko, pria berjas abu-abu, dan dua pemain lainnya.

Adrian menaikkan taruhan.

Riko ikut.

Pria berjas abu-abu itu hanya tersenyum kecil… lalu ikut menaikkan lebih tinggi.

Suasana mulai berubah.

Tidak lagi santai.

Tegang.

Adrian menatap pria itu.

Mencoba membaca.

Namun tidak mendapatkan apa pun.

Kosong.

Dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.

“Berapa banyak yang kau bawa malam ini?” bisik Riko.

“Cukup,” jawab Adrian singkat.

Namun sebenarnya, ia membawa jumlah yang cukup besar.

Lebih dari biasanya.

Mungkin karena malam ini ia ingin melupakan tekanan dari kantor.

Atau mungkin karena ia ingin membuktikan sesuatu.

Kepada dirinya sendiri.

Putaran berikutnya dimulai.

Adrian mulai merasa ritme permainan berubah.

Setiap kali ia mendapat kartu bagus, pria berjas itu seolah selalu punya jawaban.

Setiap kali ia mencoba menggertak, pria itu tidak pernah goyah.

Seolah tahu.

Atau… seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya bisa dilihat.

Adrian mulai mengencangkan rahangnya.

Ini bukan kebetulan.

“Berhenti sekarang,” bisik wanita di belakangnya lagi.

Namun Adrian tidak bergerak.

Ia tidak suka mundur.

Apalagi di depan orang lain.

Taruhan semakin besar.

Chip di tengah meja sudah cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali.
Namun Adrian justru mendorong lebih banyak.

“All in.” kata Adrian

Riko langsung menoleh.

“Adrian…”

Namun sudah terlambat.

Semua mata tertuju pada pria berjas abu-abu itu.

Ia tersenyum pelan.

Senyum yang membuat suasana semakin dingin.

“Berani juga,” katanya.

Ia menatap Adrian beberapa detik.

Lalu…

“Call.”

Kartu dibuka.

Beberapa detik yang terasa seperti menit.

Adrian melihat kartu lawannya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu

Jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya.

Ia kalah.

Tidak jauh.

Namun cukup untuk kehilangan semuanya.

Semua chip di depannya… berpindah tangan.

Sunyi.

Hanya suara musik dari kejauhan.

Riko mengumpat pelan. “Sial…”

Adrian tidak bergerak.

Tatapannya kosong menatap meja.

Ia bukan hanya kalah.

Ia merasa… dipermainkan.

Perasaan itu jauh lebih buruk.

Pria berjas abu-abu itu mengumpulkan chip dengan tenang.

Lalu menatap Adrian.

“Kau bermain bagus,” katanya ringan.

Namun nada suaranya terdengar seperti ejekan halus.

Adrian berdiri perlahan.

Tangannya mengepal.

Namun ia menahan diri.

Ini bukan tempat untuk emosi.

“Permainan belum selesai,” kata Adrian.

Pria itu tersenyum. “Untukmu? Mungkin sudah.”

Kalimat itu menusuk.

Adrian berbalik.

Ia tidak ingin membuat keributan.

Belum.

Namun saat ia melangkah menjauh

Wanita tadi sudah berdiri di depannya.

“Kau tidak mendengarkanku,” katanya pelan.

Adrian menatapnya. “Siapa kau sebenarnya?”

Wanita itu terdiam sejenak.

Seolah menimbang sesuatu.

“Alya,” jawabnya akhirnya.

Nama itu sederhana.

Namun entah kenapa terasa berbeda.

“Alya siapa?” tanya Adrian.

“Cukup Alya.” lanjut wanita itu

Adrian menarik napas panjang. “Baik, Alya. Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi di meja itu?”

Alya menatapnya dalam.

“Dia tidak bermain sendirian.” kata Alya

Adrian mengernyit. “Maksudmu?”

Alya melirik ke arah balkon atas.

Adrian mengikuti arah pandangannya.

Dan di sana

Seorang pria lain berdiri di lantai atas, hampir tersembunyi dalam bayangan.

Memegang minuman.

Namun matanya jelas mengarah ke meja poker tadi.

“Dia memberi sinyal,” kata Alya pelan.

“Setiap kartu yang dibuka… setiap gerakan kecil… semuanya dikirim ke pria itu. Dan dia yang menentukan langkah berikutnya.”

Adrian terdiam.

Pikirannya langsung bekerja cepat.

Itu masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Dan itu berarti

Ia tidak hanya kalah.

Ia ditipu.

Rahang Adrian mengeras. “Kenapa kau memberitahuku?”

Alya tidak langsung menjawab.

Ia menatap Adrian beberapa detik.

“Karena aku tidak suka melihat orang jatuh ke lubang yang sama,” katanya pelan.

“Dan kau… terlihat seperti seseorang yang masih punya kesempatan untuk keluar.” lanjut Alya

Kalimat itu membuat Adrian sedikit tersentak.

Jarang ada orang yang berbicara seperti itu padanya.

Biasanya orang hanya melihat uangnya.

Atau statusnya.

Namun wanita ini…

Melihat sesuatu yang lain.

“Dan sekarang?” tanya Adrian.

Alya tersenyum tipis. “Sekarang tergantung padamu.”

Adrian menoleh kembali ke arah meja poker.

Pria berjas abu-abu itu sudah berdiri.

Seolah siap pergi.

Membawa semua kemenangan.

Membawa uang Adrian.

Dan mungkin… harga dirinya.

Adrian mengepalkan tangan.

Dalam.

Ia bukan tipe orang yang membiarkan hal seperti ini berlalu begitu saja.

Namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama

Ia ragu.

Apakah ini tentang uang?

Atau tentang sesuatu yang lebih besar?

Di sisi lain, Riko mendekat dengan wajah tegang.

“Kita harus pergi,” katanya pelan.

“Tempat ini bukan main-main. Kalau mereka benar curang… kita bisa masuk masalah.” lanjut Riko

Adrian menatapnya.

Kemudian kembali melihat Alya.

Dan lalu

Kembali ke arah pria berjas abu-abu itu yang hampir keluar dari ruangan.

Beberapa detik.

Namun cukup untuk menentukan sesuatu.

Sebuah keputusan.

Yang tidak hanya akan memengaruhi malam ini.

Tapi juga hidupnya ke depan.

Adrian menghela napas.

Lalu berkata pelan “Kita belum selesai.”

Dan tanpa menunggu jawaban siapa pun

Ia melangkah kembali menuju meja itu.

Menuju pria yang baru saja mengalahkannya.

Menuju masalah yang mungkin jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Sementara itu

Alya hanya bisa menatap dari belakang.

Dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Karena ia tahu satu hal yang Adrian belum sadari

Bahwa permainan yang sebenarnya…

Baru saja dimulai.

Dan ketika Adrian memanggil pria berjas abu-abu itu untuk satu permainan terakhir, Ia tidak tahu bahwa taruhan kali ini bukan hanya uang…

Tapi sesuatu yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.



👈 Bab Sebelumnya                                                                 Bab Berikutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)