DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 5)

Penulis : W.K Orion

BAB 5
BAYANGAN DARI MASA LALU


Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan.

Sinar matahari menembus tirai apartemen Adrian, jatuh tepat di wajahnya. Namun bukannya terasa hangat, cahaya itu justru seperti gangguan.

Ia hampir tidak tidur.

Kepalanya penuh.

Pria misterius semalam.

Amplop berisi dokumen.

Pesan ancaman.

Dan satu hal yang terus mengganggunya

Mereka tahu terlalu banyak.

Adrian membuka mata perlahan.

Langit-langit putih menyambutnya.

Kosong.

Seperti pikirannya yang belum menemukan arah pasti.

Ia mengusap wajahnya.

Lalu duduk di tepi tempat tidur.

Sunyi.

Tidak ada suara apa pun selain napasnya sendiri.

Namun dalam sunyi itu

Ia sadar satu hal.

Ini tidak bisa dianggap ringan.

Kalau semalam hanya tentang meja poker, mungkin ia masih bisa mengabaikannya.

Namun sekarang

Ini sudah menyentuh perusahaan.

Keluarga.

Warisan ayahnya.

Dan itu

Bukan sesuatu yang bisa ia biarkan.

Adrian berdiri.

Langkahnya menuju meja kerja.

Amplop itu masih di sana.

Belum ia sentuh lagi sejak semalam.

Seolah ia berharap semua itu akan hilang dengan sendirinya.

Namun kenyataan tidak bekerja seperti itu.

Ia membuka amplop itu kembali.

Mengeluarkan isi satu per satu.

Foto.

Dokumen.

Rekening.

Beberapa nama yang tidak asing baginya.

Beberapa bahkan…

Orang dalam perusahaan.

Adrian mengerutkan kening.

“Tidak mungkin…” gumamnya.

Ia mengambil salah satu dokumen lebih dekat.

Transaksi dalam jumlah besar.

Masuk dan keluar.

Tidak tercatat dalam laporan resmi.

Dan yang membuatnya semakin tegang

Ada tanda tangan digital.

Dengan inisial yang sangat ia kenal.

R.M.

Adrian terdiam.

R.M.
Riko Mahendra.

Sepupunya sendiri.

Napas Adrian sedikit tertahan.

Ia langsung berdiri.

Berjalan mondar-mandir.

“Tidak… tidak mungkin…”

Namun logikanya tidak bisa menyangkal.

Data itu terlalu rapi untuk dibuat-buat.

Dan kalau ini benar

Berarti masalahnya jauh lebih dalam dari yang ia kira.

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul di layar

Riko.

Seolah semesta sedang menguji reaksinya.

Adrian menatap layar beberapa detik.

Lalu mengangkat panggilan. “Ya?”

“Bro, kita perlu ngobrol,” suara Riko terdengar agak tegang. 

Adrian menatap dokumen di tangannya.

“Aku juga,” jawabnya dingin.

“Kau di mana?” tanya Riko

“Apartemen.” jawab Adrian

“Aku ke sana.” lanjut Riko

Klik.

Panggilan terputus.

Adrian menurunkan ponsel perlahan.

Tatapannya kembali ke dokumen.

Pikirannya mulai menyusun kemungkinan.

Kalau Riko terlibat

Apakah ia tahu tentang orang-orang semalam?

Atau justru

Ia bagian dari mereka?

Sekitar tiga puluh menit kemudian

Pintu apartemen berbunyi.

Adrian tidak langsung membuka.

Ia berdiri beberapa detik.

Menarik napas.

Lalu berjalan ke pintu.

Dibuka.

Riko berdiri di sana.

Wajahnya terlihat lelah.

Namun bukan hanya lelah.

Ada sesuatu yang lain.

Gelisah.

“Kita perlu bicara,” kata Riko langsung.

Adrian membuka pintu lebih lebar. “Masuk.”

Riko masuk.

Langkahnya cepat.

Tidak seperti biasanya.

Biasanya ia santai.

Selalu penuh percaya diri.

Namun hari ini berbeda.

Adrian menutup pintu.

Lalu berdiri menghadapnya.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Sunyi.

Tegang.

“Semalam…” Riko mulai bicara.

Namun Adrian memotong. “Berapa lama kau terlibat?”

Riko terdiam.

Wajahnya langsung berubah.

“Terlibat apa?” tanya Riko

Adrian berjalan ke meja.

Mengambil dokumen.

Lalu melemparkannya ke arah Riko.

“Jangan pura-pura.” sahut Adrian

Kertas-kertas itu jatuh di lantai.

Riko menatapnya.

Wajahnya semakin pucat.

Ia tidak langsung membungkuk mengambilnya.

Namun ekspresinya

Sudah cukup menjawab.

Adrian menyipitkan mata.

“Jadi benar,” katanya pelan.

Riko mengusap wajahnya.

“Dengar, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” kata Riko

Adrian tertawa kecil.

Namun dingin.

“Semua orang selalu bilang begitu.” sela Adria

Riko akhirnya mengambil dokumen itu.

Membacanya sekilas.

Lalu menghela napas.

“Dari mana kau dapat ini?” tanya Riko

“Pertanyaan yang salah.” sela Adrian

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu Riko duduk di sofa.

Tangannya memegang kepala.

“Ini… rumit.” kata Riko

Adrian berdiri.

Tidak duduk.

Tidak santai.

“Aku punya waktu,” katanya.

Riko menatapnya.

Lama.

Seolah menimbang apakah ia harus jujur atau tidak.

Namun akhirnya

Ia menyerah.

“Aku butuh uang.” kata Riko

Jawaban sederhana.

Namun tidak cukup.

“Untuk apa?” tanya Adrian

Riko tertawa pahit.

“Kau tahu hidupku.” jawab Riko

Adrian menggeleng.

“Tidak. Aku tidak tahu.” sahut Adrian

Dan itu benar.

Selama ini, Adrian tidak pernah benar-benar memperhatikan.

Mereka hanya bersenang-senang bersama.

Judi.

Pesta.

Wanita.

Tanpa pernah benar-benar membahas hal serius.

Riko menghela napas panjang. “Aku punya utang.”

“Berapa?” tanya Adrian

Riko tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Adrian menatapnya tajam.

“Besar?” tanya Adrian

Riko tertawa kecil.

“Sangat.” jawab Riko

Sunyi.

Adrian berjalan mendekat.

“Dan kau pakai perusahaan untuk menutupinya?” tanya Adrian kembali

Riko mengangguk pelan.

“Awalnya cuma sedikit. Aku pikir bisa aku balikin.” jawab Riko

“Klasik,” gumam Adrian.

“Tapi aku kalah lagi. Dan lagi.” lanjut Riko

Riko menatapnya.

Matanya mulai merah.

“Lalu mereka datang.”Lirih Riko

Adrian langsung fokus.

“Mereka?” tanya Adrian

Riko mengangguk.

“Orang-orang yang sama seperti semalam.” jawab Riko

Jantung Adrian berdetak lebih keras.

“Kau bekerja untuk mereka?” tanya Adrian

Riko menggeleng cepat.

“Tidak! Aku… dipaksa.” jawab Riko

“Dengan ini?” Adrian menunjuk dokumen.

“Dan lebih dari itu.” sela Riko

Sunyi.

Adrian mulai memahami.

Ini bukan sekadar kesalahan.

Ini jebakan.

Yang perlahan menarik orang masuk.

Dan tidak memberi jalan keluar.

“Siapa mereka?” tanya Adrian.

Riko terdiam.

Wajahnya tegang.

“Kalau aku bilang… aku mati.” jawab Riko

Kalimat itu tidak terdengar berlebihan.

Dan itu membuat situasi semakin serius.

Adrian menghela napas. “Baik.”

Ia berjalan menjauh.

Mencoba berpikir.

Semuanya mulai terhubung.

Meja poker.

Kecurangan.

Pria misterius.

Dan sekarang

Orang dalam.

Keluarganya sendiri.

Adrian berhenti di dekat jendela.

Menatap keluar.

“Dan sekarang mereka mau aku ikut,” katanya pelan.

Riko mengangguk.

“Mereka tidak akan berhenti.” jawab Riko

Adrian tersenyum tipis. “Sayangnya… aku juga tidak.”

Riko menatapnya. “Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi.”

Adrian menoleh.

Tatapannya tajam.

“Kalau begitu… aku akan cari tahu.” tegas Adrian

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu Riko berdiri.

“Kalau kau masuk lebih dalam… tidak ada jalan keluar.” kata Riko

Adrian tidak menjawab.

Namun ekspresinya

Sudah cukup jelas.

Ia tidak akan mundur.

Bukan sekarang.

Bukan setelah semua ini.

Namun di dalam hatinya

Ada satu hal yang mulai berubah.

Untuk pertama kalinya

Ia tidak lagi melihat dunia ini sebagai permainan.

Tapi sebagai perang.

Dan dalam perang

Tidak ada yang benar-benar menang tanpa kehilangan sesuatu.

Riko berjalan ke arah pintu.

Namun sebelum keluar

Ia berhenti.

Tanpa menoleh.

“Ada satu hal lagi…” kata Riko

Adrian diam.

Menunggu.

Riko menarik napas. “Orang yang memimpin semua ini…”

Adrian menegang.

“…punya hubungan dengan ayahmu.” lanjut Riko

Kalimat itu


Seperti petir di siang bolong.

Adrian langsung berbalik. “Apa maksudmu?”

Namun Riko sudah membuka pintu.

“Aku tidak tahu pasti…” jawab Riko

Ia menoleh sedikit. “Tapi hati-hati, Adrian.”

Pintu tertutup.

Dan Adrian kembali sendirian.

Namun kali ini

Lebih berat dari sebelumnya.

Ia berdiri diam.

Pikiran berputar cepat.

Ayahnya.

Terlibat?

Atau hanya kebetulan?

Namun satu hal pasti

Masalah ini jauh lebih besar dari dirinya.

Dan jauh lebih lama dari yang ia kira.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan baru.

Nomor tidak dikenal lagi.

Namun kali ini

Isi pesannya berbeda.

Lebih singkat.

Lebih tajam.

“Tanya pada masa lalu keluargamu… kalau kau berani.”

Adrian menatap layar.

Lama.

Lalu perlahan

Senyumnya muncul.

Namun kali ini

Bukan senyum santai.

Bukan senyum percaya diri.

Melainkan senyum seseorang yang siap menggali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.

Ia mengambil kunci mobil.

Jaket.

Dan dokumen itu.

Langkahnya mantap menuju pintu.

Karena sekarang

Ini bukan lagi tentang uang.

Bukan tentang malam.

Bukan tentang ego.

Ini tentang kebenaran.

Dan Adrian Mahendra

Tidak akan berhenti sampai ia mendapatkannya.

Namun Adrian tidak tahu

bahwa semakin dalam ia menggali masa lalu keluarganya…

semakin dekat ia pada rahasia yang bisa membuatnya kehilangan segalanya… termasuk orang yang akan segera ia cintai.


👈 Bab Sebelumnya                                                                Bab Selanjutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)