DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 6)

Penulis :W.K Orion

BAB 6
JEJAK YANG DISEMBUNYIKAN


Mesin mobil Adrian menyala pelan saat ia keluar dari area parkir apartemen.

Langit Jakarta masih pucat.

Pagi belum sepenuhnya hidup, tapi kota ini tidak pernah benar-benar tidur.

Seperti hidupnya sekarang.

Tidak pernah benar-benar tenang.

Adrian menggenggam setir lebih erat dari biasanya.

Kepalanya penuh dengan satu hal

masa lalu ayahnya.

Selama ini, ia selalu menganggap ayahnya sebagai sosok yang kuat, disiplin, dan bersih dalam menjalankan bisnis.

Seorang pria yang membangun Mahendra Group dari nol.

Seorang pria yang dihormati.

Namun sekarang

Semua itu mulai retak.

“Punya hubungan dengan ayahmu…”

Kata-kata Riko semalam terus terngiang.

Dan pesan misterius itu…

“Tanya pada masa lalu keluargamu… kalau kau berani.”

Adrian menghela napas panjang.

“Baik,” gumamnya. “Kita mulai dari sana.”

Ia memutar setir.

Mobil meluncur menuju satu tempat yang sudah lama tidak ia datangi.

Kantor pusat Mahendra Group.


Gedung itu menjulang tinggi di kawasan bisnis.

Kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi.

Megah.

Elegan.

Dan penuh sejarah.

Adrian memarkir mobilnya di basement khusus eksekutif.

Petugas keamanan langsung memberi hormat.

“Selamat pagi, Pak Adrian.”

Adrian hanya mengangguk singkat.

Langkahnya cepat menuju lift.

Kali ini, bukan sebagai anak pemilik.

Tapi sebagai seseorang yang mencari jawaban.

Lift terbuka di lantai atas.

Ruangan kantor masih sepi.

Beberapa karyawan baru mulai datang.

Mereka menyapa dengan sopan.

Namun Adrian tidak berhenti.

Ia langsung menuju ruang kerja ayahnya.

Atau sekarang

Ruang kerjanya.

Pintu terbuka.

Ruangan itu masih sama.

Meja besar.

Rak buku.

Lukisan klasik di dinding.

Dan aroma khas yang tidak berubah sejak dulu.

Adrian berdiri di tengah ruangan.

Menatap sekeliling.

Perasaan aneh muncul.

Seolah ia sedang berada di tempat yang familiar…

Namun asing di saat yang sama.

Ia berjalan ke meja.

Duduk.

Tangannya menyentuh permukaan kayu yang halus.

Dan di situlah

Ia mulai menyadari sesuatu.

Selama ini, ia hanya melihat permukaan.

Ia tidak pernah benar-benar masuk ke dalam dunia ayahnya.

Tidak pernah bertanya terlalu jauh.

Tidak pernah peduli.

Sampai sekarang.

Adrian membuka laci meja.

Satu per satu.

Dokumen biasa.

Kontrak.

Laporan.

Namun tidak ada yang mencurigakan.

Terlalu bersih.

Terlalu rapi.

Seolah seseorang sudah memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Tidak mungkin semudah ini…” gumamnya.

Ia berdiri.

Berjalan ke rak buku.

Menelusuri satu per satu.

Buku bisnis.

Hukum.

Ekonomi.

Semua tersusun rapi.

Namun Adrian berhenti di satu bagian.

Sebuah buku tua.

Tidak sesuai dengan yang lain.

Lebih usang.

Lebih personal.

Ia mengambilnya.

Judulnya sederhana.

Tanpa nama penulis.

Hanya tulisan kecil di sampul:

“Catatan.”

Adrian membuka halaman pertama.

Kosong.

Halaman kedua.

Kosong.

Namun di halaman ketiga

Ada tulisan tangan.

Tulisan ayahnya.

Adrian langsung mengenali.

Rapi.

Tegas.

Ia mulai membaca.

Awalnya biasa.

Catatan tentang bisnis.

Proyek.

Pertemuan.

Namun semakin lama

Isinya berubah.

Lebih personal.

Lebih… gelap.

Nama-nama mulai muncul.

Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Tanggal.

Lokasi.

Dan beberapa simbol yang tidak ia pahami.

Adrian mengerutkan kening. “Ini apa…”

Ia terus membaca.

Sampai pada satu halaman

Yang membuatnya berhenti.

Ada satu nama.

Ditulis dengan garis bawah.

“Arkana.”

Jantung Adrian berdetak lebih cepat.

Nama itu

Terasa asing.

Namun entah kenapa…

Terasa penting.

Ia membaca catatan di bawahnya.

Tulisan ayahnya sedikit berbeda di bagian ini.

Lebih menekan.

Seolah ada emosi di baliknya.

“Tidak bisa keluar… terlalu dalam…”

Adrian menelan ludah.

Lalu membaca kalimat berikutnya.

“Kalau sesuatu terjadi padaku… jangan biarkan Adrian tahu.”

Sunyi.

Ruangan terasa tiba-tiba lebih dingin.

Adrian menutup buku itu perlahan.

Napasnya sedikit berat.

Ayahnya

Menyembunyikan sesuatu.

Dan sesuatu itu

Masih hidup sampai sekarang.

Ketukan pintu terdengar.

Adrian langsung menoleh.

“Masuk.” kata Adrian

Pintu terbuka.

Seorang wanita masuk.

Sekretaris lama ayahnya.

Bu Ratna.

Ia sudah bekerja di perusahaan ini lebih dari dua puluh tahun.

Dan mungkin

Orang yang paling tahu tentang masa lalu ayahnya.

“Selamat pagi, Pak Adrian,” katanya sopan.

Adrian mengangguk.

“Pagi, Bu.” sahut Adrian

Bu Ratna memperhatikan wajah Adrian.

“Bapak terlihat lelah.” tanya Bu Ratna

Adrian tersenyum tipis.

“Banyak yang harus dipikirkan.” jawab Adrian

Wanita itu mengangguk pelan.

Lalu matanya tertuju pada buku di tangan Adrian.

Dan dalam satu detik

Ekspresinya berubah.

Sedikit.

Namun cukup terlihat.

Adrian langsung menangkapnya.

“Bu Ratna…” katanya pelan.

Wanita itu kembali menatapnya.

“Ya, Pak?” jawab Bu Ratna

Adrian mengangkat buku itu sedikit.

“Ibu tahu ini?” tanya Adrian

Sunyi.

Beberapa detik.

Bu Ratna tidak langsung menjawab.

Ia berjalan mendekat.

Menatap buku itu.

Lalu

Menarik napas panjang.

“Sudah lama sekali saya tidak melihat itu,” katanya pelan.

Adrian berdiri.

“Artinya Ibu tahu.” tanya Adrian kembali

Bu Ratna menatapnya.

Dalam.

Seolah menimbang sesuatu.

“Beberapa hal… tidak seharusnya dibuka lagi,” katanya.

Adrian menggeleng.

“Sayangnya… itu sudah dibuka.” sahut Adrian

Ia berjalan mendekat.

Tatapannya tegas.

“Ayah saya terlibat apa, Bu?” tanya Adrian

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Berat.

Dan tidak bisa dihindari.

Bu Ratna memejamkan mata sejenak.

Seolah mengumpulkan keberanian.

“Pak Adrian…” kata Bu Ratna

Ia membuka mata.

“Kalau Bapak melanjutkan ini… hidup Bapak tidak akan sama lagi.” lanjut Bu Ratna

Adrian tersenyum tipis.

“Itu sudah terjadi.” sahut Adrian

Sunyi.

Beberapa detik.

Dan akhirnya

Bu Ratna menghela napas panjang.

“Ayah Bapak… bukan hanya pebisnis.” sahut Bu ratna

Kalimat itu membuat jantung Adrian berdetak lebih keras.

“Dulu… beliau terlibat dengan sebuah jaringan.” lanjut Bu Ratna kembali

Adrian menegang.

“Jaringan apa?” tanya Adrian

Bu Ratna ragu.

Namun akhirnya

Ia berkata pelan. “Arkana.”

Nama itu kembali muncul.

Dan kali ini

Lebih nyata.

Lebih berbahaya.

“Siapa mereka?” tanya Adrian.

Bu Ratna menggeleng. “Saya tidak tahu semuanya.”

“Yang Ibu tahu saja.” tanya Adrian

Wanita itu menatap Adrian.

“Jaringan yang mengatur banyak hal… di balik layar.” jawab Bu Ratna

“Bisnis. Uang. Kekuasaan.” 

“Dan… orang-orang seperti yang Bapak temui semalam.” lanjut Bu Ratna kembali

Sunyi.

Adrian merasakan sesuatu dalam dirinya berubah.

Ini bukan lagi teori.

Ini nyata.

Dan ia sudah berada di tengahnya.

“Ayah saya keluar?” tanyanya.

Bu Ratna terdiam.

Dan itu

Sudah cukup menjadi jawaban.

Adrian mengepalkan tangan.

“Artinya… tidak.” tegas Adrian

Wanita itu menunduk sedikit.

“Beliau mencoba.” jawab Bu Ratna

Adrian menatapnya tajam. “Tapi?”

Bu Ratna mengangkat wajahnya.

“Tidak ada yang benar-benar keluar dari Arkana.” jawab Bu ratna akhirnya

Kalimat itu

Seperti vonis.

Adrian menelan napas.

Lalu tertawa kecil.

Namun tanpa humor.

“Bagus,” katanya.

“Berarti aku tidak punya banyak pilihan.” sela Adrian

Bu Ratna menatapnya cemas.

“Pak Adrian…” sahut Bu Ratna

Namun Adrian sudah berbalik.

Mengambil jaketnya.

Dan buku itu.

“Terima kasih, Bu.” sela Adrian

“Pak, tunggu” teriak Bu Ratna

Namun Adrian sudah berjalan keluar.

Langkahnya cepat.

Pasti.

Karena sekarang

Ia tahu nama musuhnya.

Dan dalam dunia seperti ini

Nama adalah awal dari segalanya.

Beberapa jam kemudian.

Adrian duduk di dalam mobil.

Di parkiran sebuah kafe.

Namun ia tidak masuk.

Ia hanya menunggu.

Pikirannya masih memproses semuanya.

Arkana.

Jaringan.

Ayahnya.

Dan sekarang

Dirinya.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Nomor yang sama.

Yang misterius.

Adrian membuka.

“Jadi… kau sudah mulai mencari.”

Adrian tersenyum tipis.

Mengetik balasan.

“Kalau kau mau bermain… setidaknya kenalkan dirimu.”

Beberapa detik.

Balasan masuk.

“Kita sudah pernah bertemu.”

Adrian mengernyit.

Lalu tiba-tiba

Seseorang membuka pintu mobilnya.

Adrian langsung menoleh.

Dan di sana

Alya.

Duduk di kursi penumpang.

Dengan ekspresi tenang.

Namun matanya

Serius.

“Jangan balas pesan itu lagi,” katanya langsung.

Adrian menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Kau selalu muncul di waktu yang tepat.” kata Adrian

Alya tidak tersenyum.

“Kau sudah terlalu jauh.” sahut Alya

Adrian tertawa kecil. “Semua orang bilang begitu.”

Alya menatapnya dalam.

“Kali ini mereka benar.” sahut Alya

Sunyi.

Beberapa detik.

Adrian menatap Alya.

Lalu berkata pelan “Kau tahu tentang Arkana?”

Alya tidak langsung menjawab.

Namun dari matanya

Adrian sudah mendapatkan jawabannya.

Dan itu

Lebih berbahaya dari apa pun yang ia bayangkan

Dan ketika Alya akhirnya membuka rahasia tentang Arkana

Adrian tidak siap mendengar satu nama yang akan mengubah segalanya…



👈 Bab Sebelumnya                                                                Bab Selanjutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)