DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 7)


Penulis : W.K Orion

BAB 7
NAMA YANG TIDAK SEHARUSNYA KEMBALI


Pintu mobil tertutup pelan.

Suasana di dalam kabin mendadak terasa sempit.

Bukan karena ruangnya berubah, melainkan karena keberadaan Alya selalu membawa sesuatu yang sulit dijelaskan Adrian.

Tenang.

Namun mengganggu.

Seolah wanita itu datang bukan hanya membawa jawaban, tetapi juga masalah yang lebih besar.

Adrian mematikan layar ponselnya lalu meletakkannya di dashboard.

Ia menoleh ke arah Alya yang duduk diam di sampingnya.

Rambut panjangnya jatuh lembut di bahu. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat daripada penampilannya.

“Aku mulai curiga,” kata Adrian pelan.

Alya menatap lurus ke depan.

“Curiga apa?” kata Alya

“Bahwa kau lebih sering muncul saat aku dalam masalah daripada orang-orang yang benar-benar mengenalku.” lanjut Adrian

Alya tersenyum kecil.

Senyum tipis yang sulit diterjemahkan.

“Karena orang yang benar-benar mengenalmu mungkin tidak tahu seberapa besar masalahmu.” sahut Alya

Adrian menatapnya beberapa detik.

“Lalu kau tahu?” tanya Adrian

Alya akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Lebih dari yang seharusnya.” jawab Alya
 
Sunyi.

Suara kendaraan dari luar terdengar samar melalui kaca mobil.

Adrian menarik napas pelan.

“Kau tahu tentang Arkana?” tanya Adrian

Alya terdiam.

Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Lalu ia mengangguk. “Iya.”

Jawaban singkat itu justru membuat dada Adrian terasa lebih berat.

Karena itu berarti semua yang ia duga memang benar.

Bukan paranoia.

Bukan kebetulan.

Arkana memang nyata.

Dan Alya memang terhubung dengan semua itu.

“Siapa mereka?” tanya Adrian.

Alya menunduk sebentar.

Seolah mencari kata-kata yang tepat.

“Atau lebih tepatnya…” lanjut Adrian, “siapa kau sebenarnya?”

Alya menghela napas.

“Kalau aku jawab sekarang, kau mungkin tidak akan percaya.” jawab Alya

“Coba saja.” sela Adrian

Wanita itu menatap ke luar jendela.

Lalu berkata pelan. “Arkana bukan organisasi seperti yang orang bayangkan.”

Adrian diam.

“Mereka bukan sekadar sindikat judi.”

“Bukan hanya pencucian uang.”

“Bukan hanya orang-orang kaya yang bermain kotor.”

Ia berhenti sejenak.

“Mereka jaringan.”

“Jaringan yang tumbuh diam-diam di antara bisnis legal.”

“Masuk ke perusahaan.”

“Masuk ke politik.”

“Masuk ke kehidupan orang-orang tanpa terlihat.” lanjut Alya panjang lebar

Adrian menatap Alya dengan rahang mengeras.

“Dan ayahku?” tanya Adrian

Alya menoleh perlahan.

“Ayahmu pernah bekerja sama dengan mereka.” jawab Alya

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Adrian duga.

Meski ia sudah curiga.

Mendengarnya langsung tetap terasa berbeda.

Adrian menelan napas.

“Bekerja sama… atau dipaksa?” tanya Adrian

Alya terdiam.

“Itu yang belum kau tahu.” jawab Alya

Adrian menatap setir.

Tangannya perlahan menggenggam lebih erat.

Selama ini ia hidup dengan keyakinan bahwa ayahnya mungkin keras, mungkin dingin, tetapi tetap orang baik.

Kini bayangan itu mulai retak.

Dan yang lebih buruk

Ia tidak tahu seberapa dalam retaknya.

“Kenapa kau tahu semua ini?” tanya Adrian.

Pertanyaan itu keluar lebih tajam.

Alya tersenyum hambar.

“Karena aku dibesarkan di sekitar mereka.” jawab Alya

Adrian langsung menoleh.

Mata mereka bertemu lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu

Alya terlihat rapuh.

Hanya sesaat.

Namun Adrian melihatnya.

“Arkana mengambil banyak hal dari keluargaku,” kata Alya pelan.

Nada suaranya berbeda.

Lebih pribadi.

Lebih jujur.

“Aku tahu seperti apa rasanya saat hidupmu perlahan bukan milikmu lagi.” lanjut Alya

Adrian tidak langsung menjawab.

Ada sesuatu dalam kata-kata Alya yang membuatnya berhenti melihat wanita itu sebagai sekadar orang asing.

Karena untuk pertama kalinya

Ia melihat luka di balik ketenangannya.

“Jadi kau memperingatkanku karena itu?” tanya Adrian

Alya mengangguk kecil.

“Aku pernah melihat orang masuk terlalu jauh.”

“Dan tidak semua bisa kembali.” lanjut Alya

Adrian tertawa kecil.

Namun pahit.

“Masalahnya… aku tidak yakin aku masih bisa mundur.” sahut Adrian

Alya menatapnya dalam.

“Itulah yang mereka ingin kau rasakan.” jawab Alya

Sunyi kembali memenuhi mobil.

Namun kali ini bukan sunyi yang canggung.

Melainkan sunyi dua orang yang sama-sama tahu hidup mereka sedang bergerak ke arah yang tidak sederhana.

Setelah beberapa detik, Adrian menyalakan mesin mobil.

“Kita ke mana?” tanya Alya.

Adrian meliriknya. “Kau yang datang.”

Alya tersenyum tipis. “Dan kau yang sedang dicari.”

Adrian menaikkan alis. “Artinya?”

“Artinya jangan diam terlalu lama di satu tempat.” sela Alya

Kalimat itu membuat Adrian langsung menoleh ke kaca spion.

Dan benar saja

Sebuah sedan hitam terparkir dua baris di belakang.

Tadi ia tidak memperhatikannya.

Sekarang mobil itu masih di sana.

Mesinnya menyala.

Pengemudinya tidak terlihat jelas.

Adrian menyipitkan mata.

“Kau tahu mereka mengikuti?” tanya Adrian

“Aku berharap aku salah.” jawab Alya

Adrian tidak bertanya lagi.

Ia langsung memasukkan gigi.

Mobil melaju keluar parkiran.

Sedan hitam itu ikut bergerak.

Adrian menatap spion.

Lalu tersenyum tipis.

“Mereka memang tidak sabaran.” sahut Adrian

Alya menoleh ke belakang sekilas.

“Kau mau melakukan apa?” tanya Alya

Adrian memutar setir ke jalan utama.

“Cari tahu seberapa serius mereka.” jawab Adrian

“Adrian” sahut Alya

“Aku tidak akan terus lari.” tantang Adrian

Alya menatap profil wajahnya.

Tatapan tajam.

Rahang keras.

Dan ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya berbeda dari orang lain yang pernah ia lihat.

Sebagian orang takut ketika mengetahui Arkana.

Sebagian orang hancur.

Namun Adrian

Justru bergerak mendekat.

Dan itu bisa menjadi hal paling berbahaya dari semuanya.

Mobil meluncur ke jalan yang lebih ramai.

Sedan hitam tetap mengikuti.

Dua lampu depannya tampak stabil di kaca spion.

Adrian memutar setir ke arah jalan sempit di kawasan lama kota.

“Kalau mereka benar mengikutimu…” kata Alya pelan.

“Mereka tidak datang hanya untuk menakutimu.” lanjut Alya

Adrian tersenyum tipis. “Bagus.”

Alya menatapnya.

“Kau selalu seperti ini?” tanya Alya

“Seperti apa?” tanya Adrian balik

“Mendekati masalah.” jawab Alya

Adrian tertawa kecil.

“Biasanya masalah yang datang duluan.” sahut Adrian

Untuk pertama kalinya, Alya tersenyum sedikit lebih nyata.

Namun hanya sebentar.

Karena mobil di belakang mempercepat.

Adrian melihat itu.

“Akhirnya.” bisik Adrian pelan

Ia membelok tajam ke gang samping.

Sedan hitam ikut.

Jalan menjadi lebih sempit.

Lebih sepi.

Tidak banyak kendaraan.

Hanya deretan ruko tua dan lampu jalan yang redup.

Adrian mengurangi kecepatan.

Seolah memberi kesempatan.

Alya menatapnya tak percaya.

“Kau sengaja?” tanya Alya

Adrian meliriknya.

“Kalau terus dikejar tanpa tahu siapa yang mengejar, itu lebih berbahaya.” jawab Adrian

“Dan kalau mereka bersenjata?” tanya Alya

Adrian diam sejenak.

Lalu berkata tenang. “Semoga mereka tidak terlalu marah.”

Mobil belakang semakin dekat.

Sampai hanya beberapa meter.

Lalu

Lampu jauhnya berkedip dua kali.

Adrian mengernyit.

Bukan seperti orang yang mau menyerang.

Lebih seperti memberi sinyal.

Sedan itu lalu menyalip.

Masuk ke depan.

Dan berhenti melintang di jalan.

Adrian menginjak rem mendadak.

Mobil berhenti keras.

Alya menahan dashboard.

Jantungnya berdetak cepat.

Pintu sedan hitam terbuka.

Seseorang keluar.

Seorang pria tua.

Rapi.

Berjas gelap.

Rambut mulai memutih.

Dan ketika Adrian melihat wajah pria itu

Napasnya tertahan.

Karena ia mengenal wajah itu.

Meski sudah bertahun-tahun tidak melihatnya.

“Tidak mungkin…” bisik Adrian.

Alya menoleh. “Siapa dia?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Matanya tetap pada pria di luar.

“Dimas.” jawab Adrian

Alya mengernyit.

“Siapa?” tanya Alya

Adrian menelan ludah.

“Sahabat ayahku.” jawab Adrian

Pria tua itu berdiri di depan mobil Adrian.

Tatapannya tajam namun tenang.

Lalu mengangkat tangan pelan.

Meminta Adrian turun.

Alya menatap Adrian.

“Jangan.” sahut Alya

Namun Adrian justru membuka sabuk pengaman.

“Kalau dia mau mencelakaiku…” kata Adrian.

“Dia tidak akan muncul sendiri.” lanjut Adrian

Alya menahan napas.

Adrian membuka pintu.

Keluar.

Udara sore terasa lebih dingin.

Pria bernama Dimas itu menatap Adrian lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Sudah sebesar ini.” sahut Dimas

Adrian berdiri kaku.

“Aku kira Anda menghilang.” sahut Adrian

Dimas mengangguk pelan.

“Aku juga berharap begitu.” kata Dimas

Sunyi.

Alya memperhatikan dari dalam mobil.

Ia bisa melihat ketegangan di wajah Adrian.

Bukan marah.

Bukan takut.

Lebih seperti seseorang yang tiba-tiba dipaksa membuka luka lama.

“Kenapa mengikuti saya?” tanya Adrian.

Dimas menatapnya dalam.

“Karena kau mulai mencari hal yang seharusnya tidak kau sentuh.” jawab Dimas

Adrian tersenyum dingin.

“Semua orang bilang begitu.” sahut Adrian

“Karena semua orang ingin kau tetap hidup.” jawab Dimas

Kalimat itu membuat Adrian diam.

Dimas melangkah mendekat.

“Dengarkan aku baik-baik.” kata Dimas

Tatapannya berubah serius.

“Ayahmu membuat satu kesalahan besar.” kata dimas melanjutkan

Adrian menegang.

“Apa?” tanya Adrian

Dimas menatap lurus ke matanya.

“Dia percaya pada orang yang salah.” jawab Dimas

Sunyi.

Angin kecil melewati gang sempit itu.

Adrian merasakan jantungnya berdetak lebih keras.

“Siapa?” tanya Adrian

Dimas tidak langsung menjawab.

Ia melirik ke arah mobil.

Ke arah Alya.

Lalu kembali ke Adrian.

“Kalau kau ingin tahu kebenaran…” sela Dimas

Ia merogoh sakunya.

Mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak.

Menyerahkannya ke tangan Adrian.

“Datang sendiri malam ini.” kata Dimas

Adrian menatap kunci itu.

“Apa ini?” tanya Adrian

“Jawaban.” kata Dimas

“Di mana?” tanya Adrian

Dimas tersenyum tipis.

“Tempat yang dulu paling ayahmu lindungi dari siapa pun.” jawab Dimas

Adrian mengangkat wajah.

Namun Dimas sudah mundur.

Kembali ke mobilnya.

Sebelum masuk, ia berkata pelan

“Dan jangan percaya siapa pun.” kata Dimas

Tatapannya sebentar jatuh ke arah Alya.

Lalu ia masuk ke mobil.

Sedan hitam itu mundur perlahan.

Kemudian pergi.

Meninggalkan Adrian berdiri sendirian di tengah jalan sempit.

Dengan kunci kecil di tangannya.

Dan satu kalimat yang membuat darahnya terasa dingin

jangan percaya siapa pun.

Termasuk…

Alya.

Adrian menoleh perlahan ke arah mobil.

Alya masih duduk di dalam.

Menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya

Adrian mulai bertanya dalam hatinya sendiri.

Apakah wanita yang selama ini memperingatkannya…

Benar-benar sedang melindunginya?

Atau justru

Membawanya lebih dalam.

Namun Adrian belum tahu…

bahwa kunci kecil di tangannya bukan hanya membuka rahasia ayahnya

melainkan juga membuka masa lalu Alya yang selama ini ia sembunyikan.



👈 Bab Sebelumnya                                                                Bab Selanjutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)