DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 8)


Penulis : W.K Orion

BAB 8
PINTU YANG SELAMA INI TERKUNCI


Adrian masih berdiri di tengah jalan sempit itu.

Kunci kecil berwarna perak masih berada di telapak tangannya.

Benda itu terasa ringan.

Terlalu ringan untuk sesuatu yang tiba-tiba terasa begitu penting.

Di dalam mobil, Alya memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

Tatapan wanita itu tenang.

Namun Adrian kini mulai melihat semuanya dengan cara berbeda.

Bukan lagi sekadar wanita misterius yang muncul di waktu yang aneh.

Bukan lagi sekadar seseorang yang memperingatkannya.

Sekarang

Ia adalah seseorang yang mungkin tahu jauh lebih banyak daripada yang selama ini ia tunjukkan.

Adrian masuk kembali ke mobil.

Pintu tertutup.

Sunyi.

Hanya suara AC mobil yang terdengar pelan.

Alya menatap tangan Adrian.

“Kunci itu dari Dimas?” tanya Alya

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia justru menoleh.

Menatap Alya cukup lama.

Sampai wanita itu sadar arah pembicaraan berubah.

“Aku mau tanya sesuatu,” kata Adrian akhirnya.

Alya menghela napas pelan.

“Tanyakan.” jawab Alya

“Kau sebenarnya siapa?” tanya Adrian

Tidak ada nada marah.

Tidak ada emosi berlebihan.

Justru itu yang membuat pertanyaan itu terasa lebih serius.

Alya tidak menjawab.

Ia hanya menatap Adrian beberapa detik.

Lalu memalingkan wajah ke luar jendela.

“Kalau aku jawab sekarang,” katanya pelan, “kau mungkin akan berhenti percaya padaku.” lanjut Alya

Adrian tersenyum tipis.

“Itu asumsi yang berani.” sahut Adrian

Alya menatapnya lagi.

“Masih percaya?” tanya Alya

Adrian terdiam sejenak.

Jujur

Ia sendiri tidak tahu.

Yang ia tahu hanya satu.

Sejak Alya muncul, hidupnya berubah.

Dan semua rahasia yang tadinya tersembunyi mulai muncul satu per satu.

“Kau tahu tempat ini membuka apa?” tanya Adrian sambil mengangkat kunci kecil itu.

Alya menggeleng.

“Tapi aku tahu satu hal.” sahut Alya

“Apa?” tanya Adrian

“Kalau Dimas yang memberikannya…” jawab Alya

Ia berhenti sebentar.

“…maka apa pun yang ada di balik pintu itu, ayahmu berusaha keras menyembunyikannya.” lanjut Alya

Kalimat itu membuat Adrian kembali melihat kunci di tangannya.

Pikirannya mulai menyusun potongan demi potongan.

Ayahnya.

Arkana.

Dimas.

Alya.

Dan kini

Kunci.

“Kalau begitu kita cari tahu,” kata Adrian.

Alya menoleh.

“Kita?” tanya Alya

Adrian menyalakan mesin mobil.

“Kalau aku pergi sendiri, kau akan ikut diam-diam.” sahut Adrian

Alya menatapnya.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu

Ia tersenyum kecil.

“Kau cepat belajar.” kata Alya

Adrian meliriknya.

“Aku terpaksa.” jawab Adrian

Mobil kembali melaju keluar dari jalan sempit.

Kali ini tanpa ada yang mengikuti.

Namun justru itu membuat suasana terasa lebih tidak nyaman.

Karena dalam dunia seperti ini

Kadang ketika tidak ada yang terlihat…

Justru saat itulah seseorang sedang memperhatikan.

-
Selama perjalanan, Adrian mencoba mengingat.

Tempat yang paling dijaga ayahnya.

Tempat yang tidak pernah boleh dimasuki siapa pun.

Dan hanya satu lokasi yang muncul di kepalanya.

Rumah lama keluarga mereka.

Rumah besar di pinggir kota.

Tempat ia tumbuh sebelum pindah ke apartemen sendiri.

Setelah ayahnya meninggal, rumah itu hampir tidak pernah dikunjungi.

Ibunya memilih tinggal di luar negeri bersama kakaknya.

Dan Adrian sendiri terlalu sibuk menjalani hidupnya.

Mungkin karena itu

Tempat itu justru menjadi lokasi terbaik untuk menyimpan sesuatu.

“Aku tahu ke mana,” kata Adrian.

Alya menatapnya.

“Di mana?” tanya Alya

“Rumah lama keluargaku.” jawab Adrian

Alya tidak menjawab.

Namun ekspresinya berubah sedikit.

Seolah nama tempat itu tidak asing baginya.

Adrian menangkap perubahan kecil itu.

“Kau tahu tempat itu?” tanya Adrian

Alya terlalu cepat menggeleng.

“Tidak.” jawab Alya

Namun jawaban itu terasa tidak sepenuhnya jujur.

Dan Adrian mulai sadar

Setiap jawaban dari Alya selalu menyimpan sesuatu.

--
Rumah itu berdiri sunyi di kawasan elite yang jauh lebih tenang dibanding pusat kota.

Gerbang tinggi.

Pohon-pohon besar.

Dan halaman luas yang kini tampak terlalu sepi.

Lampu taman masih menyala redup.

Namun rumah besar itu terasa seperti bangunan yang sudah lama kehilangan kehidupan.

Adrian memarkir mobil.

Mesin mati.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada suara.

Hanya malam.

Alya menatap rumah itu dari balik kaca.

“Ini tempatnya?” tanya Alya

Adrian mengangguk pelan.

“Dulu rumah ini selalu ramai.” lirih Adrian

Suaranya terdengar berbeda.

Lebih pelan.

Lebih jauh.

Alya menoleh.

Adrian jarang bicara tentang masa kecilnya.

Tentang keluarga.

Dan untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain pria itu.

Bukan Adrian yang percaya diri.

Bukan Adrian yang keras kepala.

Melainkan seseorang yang tampak seperti sedang kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Mereka turun dari mobil.

Langkah kaki mereka terdengar di batu halaman.

Adrian membuka pintu utama.

Rumah masih terawat karena petugas datang beberapa kali seminggu.

Namun tetap ada rasa dingin.

Bukan dingin udara.

Dingin kenangan.

Adrian masuk lebih dulu.

Lampu ruang tamu menyala.

Semua masih seperti dulu.

Sofa besar.

Lukisan.

Jam tua di dinding.

Dan aroma samar kayu lama.

Alya berjalan pelan di belakangnya.

Matanya memperhatikan setiap sudut.

“Kau pernah ke sini?” tanya Adrian tiba-tiba.

Alya berhenti.

“Tidak.” jawab Alya

Adrian menoleh.

“Kau melihat rumah ini seperti kau mengenalnya.” tanya Adrian curiga

Alya terdiam.

Namun akhirnya hanya berkata

“Kadang rumah besar seperti ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada penghuninya.” sahut Alya

Kalimat itu membuat Adrian menatapnya beberapa detik.

Lalu menghela napas.

“Baik.” kata Adrian

Ia berjalan menuju ruang kerja ayahnya.

Ruangan itu masih terkunci.

Sama seperti terakhir kali.

Adrian memasukkan kunci biasa.

Klik.

Pintu terbuka.

Ruangan gelap.

Ia menyalakan lampu.

Semuanya tampak rapi.

Terlalu rapi.

Meja kayu besar.

Rak buku.

Lemari arsip.

Tidak ada tanda-tanda apa pun.

Alya berdiri di ambang pintu.

“Kalau sesuatu disembunyikan…” katanya pelan.

“…biasanya tidak disimpan di tempat yang terlihat.” lanjut Alya

Adrian mengangguk.

Ia mulai memeriksa.

Laci.

Rak.

Lemari.

Tak ada apa pun.

Hanya dokumen lama biasa.

Laporan bisnis.

Surat.

Semua tampak normal.

Terlalu normal.

Adrian berdiri diam di tengah ruangan.

Mencoba berpikir.

Lalu matanya jatuh ke satu benda di sudut.

Jam dinding tua.

Jam itu berhenti sejak lama.

Pukul 11 lewat 17 menit.

Adrian menatapnya.

Mendadak ia teringat sesuatu.

Dulu ayahnya sangat membenci jam rusak.

Tak pernah membiarkan ada benda rusak di rumah.

Lalu kenapa jam itu dibiarkan?

Ia mendekat.

Mengangkat jam dari dinding.

Dan di belakangnya

Lubang kunci kecil.

Persis ukuran kunci dari Dimas.

Adrian menatap Alya.

Alya juga menatap lubang itu.

Tak ada yang bicara.

Adrian memasukkan kunci.

Memutarnya perlahan.

Klik.

Suara mekanis terdengar dari dalam dinding.

Lalu

Rak buku di sisi kanan bergeser pelan.

Membuka celah sempit.

Sebuah ruang tersembunyi.

Adrian membeku sesaat.

Alya menahan napas.

Ruang itu kecil.

Gelap.

Namun jelas sengaja dibuat.

Adrian menyalakan lampu ponselnya.

Cahaya masuk ke dalam.

Di sana hanya ada:

Sebuah brankas kecil.

Beberapa map lama.

Dan satu foto yang terjatuh di lantai.

Adrian mengambil foto itu.

Tangannya langsung menegang.

Dalam foto itu ada tiga orang.

Ayahnya.

Pria bernama Dimas.

Dan

Seorang gadis kecil.

Adrian membalik foto.

Di belakangnya ada tulisan tangan.

“Untuk Alya, supaya suatu hari kau tahu siapa yang sebenarnya menghancurkan keluargamu.”

Adrian perlahan mengangkat wajah.

Menatap Alya.

Dan kali ini

Wajah wanita itu benar-benar berubah.

Pucat.

Diam.

Mata yang selama ini tenang kini penuh sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan.

Adrian menatapnya lama.

Lalu bertanya pelan.

“Alya…”

Suara Adrian terdengar berat.

“…kenapa nama kamu ada di foto keluarga ayahku?” tanya Adrian

Sunyi.

Panjang.

Dan dalam sunyi itu

Alya menutup mata sejenak.

Seolah rahasia yang selama ini ia jaga…

Akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.

Ketika ia membuka mata

Tatapannya berbeda.

Bukan lagi tatapan seorang wanita misterius.

Tapi seseorang yang sudah lelah bersembunyi.

“Aku sudah bilang…” katanya pelan.

“Kalau kau tahu siapa aku…”

Ia menatap langsung ke mata Adrian.

“…kau mungkin akan membenciku.” lanjut Alya

Jantung Adrian berdetak lebih keras.

Tangannya masih menggenggam foto itu.

Dan untuk pertama kalinya

Ia mulai takut pada jawaban yang akan ia dengar.

Namun Adrian belum tahu…

bahwa hubungan Alya dengan masa lalu ayahnya jauh lebih dekat dari yang ia bayangkan

dan kebenaran itu bisa menghancurkan perasaannya sebelum semuanya benar-benar dimulai.


👈 Bab Sebelumnya                                                                Bab Selanjutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)