DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 9)
BAB 9
PEREMPUAN DALAM FOTO LAMA
Ruangan tersembunyi itu mendadak terasa lebih sempit.
Padahal ukurannya tidak berubah.
Namun setelah Adrian membaca tulisan di balik foto itu, udara seperti berubah.
Lebih berat.
Lebih dingin.
Dan jauh lebih sulit diabaikan.
Adrian masih berdiri dengan foto di tangannya.
Tatapannya tidak lepas dari wajah Alya.
Sementara Alya berdiri beberapa langkah di depannya dengan napas yang terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu
Wanita itu terlihat kehilangan kendali.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk Adrian menyadarinya.
“Jelaskan.” Suara Adrian rendah.
Tidak keras.
Justru itu yang membuatnya terdengar jauh lebih serius.
Alya menunduk.
Matanya sebentar tertutup.
Seolah ia tahu bahwa setelah malam ini
Semuanya tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya.
“Aku tidak pernah berniat kau tahu seperti ini,” katanya pelan.
Adrian tertawa kecil.
Namun tanpa humor.
“Lucu.” kata Adrian
Alya mengangkat wajah.
“Apa?” tanya Alya
“Karena akhir-akhir ini semua orang bilang mereka tidak berniat.” jawab Adrian
Ia mengangkat foto itu sedikit.
“Tapi semua orang tahu lebih banyak dari aku.” lanjut Adrian
Sunyi.
Alya menatap Adrian.
Ada rasa bersalah di matanya.
Dan itu justru membuat Adrian semakin tidak nyaman.
“Siapa kau?” tanya Adrian lagi.
Kali ini lebih pelan.
Lebih pribadi.
Alya menghela napas panjang.
Lalu akhirnya berkata “Ayahku pernah bekerja untuk ayahmu.”
Adrian langsung diam.
Wajahnya tetap tenang.
Namun di dalam kepalanya, semua bergerak cepat.
“Bekerja?” tanya Adrian
Alya mengangguk.
“Lebih tepatnya… partner.” kata Alya
Adrian menatap foto itu lagi.
Ayahnya.
Dimas.
Seorang anak kecil.
Dan sekarang semuanya mulai membentuk pola.
“Kau anak dari salah satu dari mereka?” tanya Adrian
Alya mengangguk kecil.
“Dimas itu pamanku.” jawab Alya
Adrian menegang.
“Pamanku yang membesarkanku setelah orang tuaku meninggal.” lanjut Alya kembali
Beberapa detik tidak ada suara.
Hanya jam tua di luar ruangan yang berdetak pelan.
Adrian menelan napas.
“Meninggal bagaimana?” tanya Adrian
Pertanyaan itu keluar hampir otomatis.
Namun dari ekspresi Alya
Adrian tahu jawabannya tidak akan sederhana.
Alya memandang foto itu.
Lama.
Lalu berkata dengan suara pelan.
“Mereka dibunuh.” jawab Alya
Kalimat itu jatuh seperti benda berat di lantai.
Membuat udara di antara mereka terasa semakin dingin.
Adrian menatap Alya.
Mencari tanda bahwa wanita itu bercanda.
Namun tidak ada.
Hanya kesedihan lama yang sudah terlalu sering disimpan.
“Siapa?” tanya Adrian
Alya menatap Adrian.
“Arkana.” jawab Alya
Nama itu lagi.
Nama yang sekarang terasa seperti bayangan yang muncul di setiap sudut hidupnya.
Adrian memejamkan mata sesaat.
Lalu membukanya kembali.
“Dan ayahku?” tanya Adrian
Alya terdiam.
Lama.
Terlalu lama.
Dan Adrian langsung tahu
Jawaban itu yang paling berat.
“Pamanku percaya,” kata Alya pelan, “bahwa ayahmu tahu sesuatu.”
Adrian mengeras.
“Tahu… atau terlibat?” tanya Adrian
Alya menahan napas.
“Aku tidak tahu.” jawab Alya
Jawaban jujur itu justru lebih menyakitkan.
Karena ketidakpastian kadang lebih buruk daripada kebohongan.
Adrian berjalan menjauh beberapa langkah.
Tangannya mengusap wajah.
Pikirannya terasa sesak.
Semua yang ia yakini tentang keluarganya perlahan runtuh.
Dan yang lebih buruk
Orang yang membuat semuanya runtuh adalah satu-satunya orang yang akhir-akhir ini justru paling sering muncul di hidupnya.
“Kau dekati aku karena itu?” tanya Adrian tanpa menoleh.
Alya diam.
Adrian berbalik.
Tatapannya tajam.
“Jawab.” bentak Adrian
Alya menatap matanya.
Lalu berkata jujur
“Awalnya… iya.” kata Alya
Jawaban itu seperti pukulan yang tidak terlihat.
Adrian tertawa kecil.
Pahit.
“Tentu saja.” kata Adrian
“Adrian” sela Alya
“Aku harusnya sudah tahu.” sahut Adrian
Alya melangkah mendekat.
“Tapi semuanya berubah.” kata Alya
Adrian menatapnya dingin.
“Kalimat yang sangat klise.” sahut Adrian
“Aku serius.” kata Alya
Dan untuk pertama kalinya, suara Alya terdengar pecah.
Tipis.
Namun nyata.
“Aku memang mendekat karena ingin tahu apakah kau seperti ayahmu.” sahut Alya
Sunyi.
“Tapi setelah aku mengenalmu…” lanjut Alya
Ia berhenti.
Menelan kata-kata berikutnya.
Namun Adrian bisa melihatnya.
Rasa sakit.
Dan mungkin
Perasaan yang tidak ia harapkan.
“Aku tidak jadi seperti rencanaku.” lanjut Alya kembali
Adrian menatapnya lama.
Namun kali
Ia tidak tahu harus percaya atau tidak.
Karena setiap jawaban membuka luka baru.
Dan ia belum tahu mana yang benar.
Ia melihat kembali isi ruangan.
Brankas.
Map.
Dokumen.
Sesuatu yang lebih konkret.
Lebih mudah dipercaya daripada emosi.
“Apa lagi yang kau sembunyikan?” tanya Adrian.
Alya menggeleng. “Tidak ada.”
Adrian menatapnya.
Lalu menuju brankas.
“Semoga kali ini ada sesuatu yang tidak bohong.” sahut Adrian
Alya memejamkan mata sebentar.
Namun tidak menghentikannya.
Adrian berlutut di depan brankas kecil.
Memeriksa.
Kode angka.
Empat digit.
Ia mencoba tanggal lahir ayahnya.
Gagal.
Tanggal perusahaan berdiri.
Gagal.
Alya memperhatikan dari belakang.
“Coba tanggal di jam.” sahut Alya
Adrian menoleh. “Apa?”
Alya menunjuk ke arah jam tua di dinding luar.
“11:17.” kata Alya
Adrian menatapnya.
“Kau tahu?” tanya Adrian
Alya menunduk.
“Pamanku pernah menyebut angka itu.” jawab Alya
Adrian memasukkan angka.
Klik.
Brankas terbuka.
Mereka saling menatap sejenak.
Lalu Adrian membukanya perlahan.
Di dalam hanya ada tiga benda.
Sebuah flashdisk hitam.
Satu amplop cokelat.
Dan sebuah surat dengan tulisan tangan ayahnya.
Adrian langsung mengambil surat itu.
Tangannya mendadak terasa lebih berat.
Karena ia langsung mengenali tulisan itu.
Tulisan ayahnya.
Untuk pertama kalinya setelah kematian ayahnya
Ia merasa seperti sedang berbicara langsung dengannya lagi.
Di bagian depan tertulis:
Untuk Adrian. Jika kau menemukan ini, berarti semuanya sudah terlambat.
Jantung Adrian berdetak lebih keras.
Ia membuka surat itu perlahan.
Dan mulai membaca.
Adrian,
Kalau kau membaca ini, berarti aku gagal melindungimu.
Ada banyak hal tentang hidupku yang tidak pernah kau tahu.
Dan sebagian dari itu sengaja kusimpan.
Bukan karena aku tidak percaya padamu.
Tapi karena aku ingin kau punya kesempatan hidup yang berbeda dariku.
Adrian berhenti sebentar.
Napasnya terasa berat.
Ia melanjutkan.
Aku pernah membuat kesalahan besar.
Aku percaya bahwa aku bisa masuk ke dunia gelap tanpa ikut tenggelam.
Aku salah.
Alya menatap Adrian dari belakang.
Ia bisa melihat tangan pria itu sedikit gemetar.
Adrian terus membaca.
Arkana bukan sekadar jaringan.
Mereka tidak hanya menghancurkan bisnis.
Mereka menghancurkan keluarga.
Dan mereka mengambil orang-orang yang tidak bersalah.
Adrian menelan ludah.
Matanya bergerak ke baris berikutnya.
Dan di situlah
Dunia seperti berhenti sejenak.
Ayah Alya meninggal karena melindungiku.
Adrian membeku.
Matanya berhenti di kalimat itu.
Ia membaca ulang.
Lalu sekali lagi.
Seolah berharap ia salah membaca.
Namun kalimat itu tetap sama.
Ia perlahan mengangkat wajah.
Menatap Alya.
Wanita itu berdiri diam.
Mata mereka bertemu.
Dan dari ekspresi Alya
Adrian tahu.
Itu benar.
“Jadi…” Suara Adrian serak.
“…ayahku penyebab semuanya?” tanya Adrian
Alya menahan napas.
Air mata tipis mulai terlihat di matanya.
“Bukan sesederhana itu.” kata Alya
Namun bagi Adrian
Saat itu rasanya justru sangat sederhana.
Ayahnya hidup.
Ayah Alya mati.
Dan Alya datang ke hidupnya membawa semua luka itu.
Adrian menutup surat itu perlahan.
Pikirannya kosong.
Tidak marah.
Belum.
Tidak sedih.
Belum.
Hanya
Kosong.
Dan justru itulah yang paling menakutkan.
“Adrian…” Alya melangkah mendekat.
Namun Adrian mundur satu langkah.
Gerakan kecil.
Namun cukup.
Cukup untuk membuat Alya berhenti.
Sunyi.
Panjang.
Menyakitkan.
Adrian menatap wanita itu.
Tatapan yang kini tidak lagi sama.
“Aku butuh waktu.” kata Adrian
Kalimat itu pelan.
Namun lebih tajam daripada kemarahan.
Alya menunduk.
Karena ia tahu
Kadang jarak kecil lebih menyakitkan daripada teriakan.
Adrian mengambil flashdisk dan amplop dari brankas.
Lalu berdiri.
Tanpa menatap Alya lagi.
Namun sebelum keluar dari ruangan
Ia berhenti.
Tanpa menoleh.
Lalu berkata pelan.
“Kau seharusnya jujur dari awal.” kata Adrian
Kalimat itu menghantam Alya lebih keras daripada yang ia tunjukkan.
Karena jauh di dalam dirinya
Ia tahu Adrian benar.
Dan kali ini
Untuk pertama kalinya
Ia takut benar-benar kehilangan seseorang.
Namun Adrian belum membuka isi flashdisk itu…
dan di dalamnya tersimpan rekaman yang akan membuktikan bahwa kematian ayah Alya bukan kecelakaan
melainkan pengkhianatan dari seseorang yang masih hidup sampai sekarang.

Komentar
Posting Komentar