DI UJUNG MEJA TARUHAN (BAB 1)


Penulis : W.K Orion

BAB 1
MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA

Hujan turun tanpa suara gemuruh, seperti sengaja menahan diri agar tidak menarik perhatian siapa pun. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah, menciptakan kilau muram yang selalu membuat Arya merasa nyaman—seolah dunia memang seharusnya terlihat gelap seperti ini.

Di sebuah kamar kos sempit lantai tiga, Arya duduk membungkuk di tepi ranjang. Sebatang rokok menyala di jarinya, abu jatuh perlahan ke lantai tanpa ia pedulikan. Matanya terpaku pada layar ponsel. Angka-angka berwarna merah dan hijau terus bergerak. Naik, turun, berkedip cepat. Terlalu cepat untuk orang yang ingin berpikir jernih.

Saldo tersisa: Rp187.000.

Arya tersenyum tipis. Senyum orang yang sudah terlalu sering kalah, sampai menang pun tidak lagi terasa istimewa.

“Sekali lagi,” gumamnya pelan.
“Cuma sekali lagi.”

Kalimat itu sudah seperti doa palsu yang ia ucapkan setiap malam.

Tiga bulan lalu, ia masih punya tabungan belasan juta. Enam bulan lalu, ia masih punya pacar yang menunggunya pulang dengan senyum hangat dan segelas teh manis. Sembilan bulan lalu, hidupnya masih terlihat seperti hidup kebanyakan pria usia dua puluh delapan tahun—biasa, lelah, tapi punya arah.

Sekarang, semua terasa seperti lorong panjang tanpa ujung.

Arya menekan tombol spin.

Layar bergetar. Simbol berputar cepat. Musik digital berbunyi nyaring, dibuat seolah-olah kemenangan tinggal sejengkal lagi. Jantung Arya ikut berpacu. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena dingin, tapi karena harapan bodoh yang selalu muncul meski ia tahu hasilnya sering menyakitkan.

Putaran berhenti.

Kalah.

Saldo turun lagi.

Arya menutup mata. Menarik napas panjang. Lalu tertawa kecil—tawa pahit yang tidak pernah terdengar lucu.

“Bangsat…”

Ia melempar ponsel ke kasur. Bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Kamar itu bau asap rokok, kopi instan, dan keputusasaan. Dindingnya dipenuhi poster band lama dan satu foto yang sengaja tidak pernah ia turunkan.

Foto itu menampilkan dirinya bersama Naya.

Perempuan itu tersenyum lebar, memeluk lengannya. Rambutnya panjang, matanya jujur, dan saat itu—saat foto itu diambil—Naya masih percaya bahwa Arya adalah pria yang bisa ia andalkan.

Arya membalikkan foto itu menghadap dinding.

Ia tidak ingin diingatkan bahwa dirinya pernah menjadi seseorang yang layak dicintai.

Ponselnya bergetar.

Luna.

Nama itu muncul di layar bersama notifikasi pesan singkat:

“Kamu di mana? Aku kangen. Datang ke apartemen aku malam ini.”

Arya menghela napas. Luna bukan pacarnya. Mereka tidak pernah menyebut hubungan mereka dengan nama apa pun. Mereka bertemu di sebuah bar, malam ketika Arya baru saja kehilangan uang gajinya untuk pertama kali. Luna duduk sendirian, mengenakan gaun hitam ketat, dengan tatapan yang seolah berkata bahwa ia juga tidak sedang mencari masa depan.

Hubungan mereka dibangun dari malam-malam tanpa janji. Tanpa rencana. Tanpa keinginan untuk saling menyelamatkan.

Dan itu cocok dengan Arya.

Ia mengetik balasan singkat:

“Sebentar lagi.”

Arya meraih jaket lusuhnya dan keluar dari kamar kos tanpa mematikan lampu. Ia tahu ia akan kembali larut malam, atau mungkin pagi.

Apartemen Luna berada di lantai dua belas sebuah gedung modern. Lift berbau parfum mahal dan alkohol. Saat pintu apartemen terbuka, Luna sudah berdiri di ambang pintu, bersandar santai.

“Kamu kelihatan capek,” kata Luna, sambil menarik tangan Arya masuk.

“Aku selalu capek,” jawab Arya.

Mereka tidak banyak bicara. Tidak pernah perlu. Bibir Luna menyentuh lehernya, hangat dan berani. Sentuhan itu menghapus sejenak suara mesin slot di kepala Arya, mengalihkan pikirannya dari angka-angka yang terus menghantui.

Malam itu berjalan seperti malam-malam sebelumnya, gelap, intens, dan tanpa nama. Hubungan yang penuh nafsu, tanpa keintiman yang sungguh-sungguh. Saat mereka berbaring berdampingan setelahnya, Luna menyalakan rokok, menatap langit-langit.

“Kamu tahu,” katanya pelan, “kita ini sama-sama rusak.”

Arya tertawa pendek. “Aku tahu.”

“Tapi kamu lebih rusak,” lanjut Luna tanpa nada mengejek. “Kamu terus lari dari sesuatu.”

Arya tidak menjawab. Ia menatap layar ponselnya lagi. Saldo tersisa masih sama. Angka kecil yang terasa seperti ejekan.

Luna melirik. “Masih main itu?”

“Cuma buat senang-senang.”

“Kamu bohong,” Luna mendengus. “Aku juga pernah main. Awalnya cuma senang-senang. Terus aku sadar, aku bukan main buat menang. Aku main buat lupa.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Arya duga.

Ia mematikan layar ponsel. “Aku bisa berhenti kapan aja.”

Luna tertawa. Kali ini getir. “Semua orang bilang begitu.”

Pagi menjelang ketika Arya meninggalkan apartemen itu. Ia turun ke jalan dengan langkah berat. Dompetnya kosong, pikirannya penuh. Saat berjalan melewati minimarket, ia berhenti.

Ia melihat pantulan dirinya di kaca: mata cekung, wajah kusut, bahu sedikit membungkuk.

“Ini bukan aku,” gumamnya.

Namun ponselnya kembali bergetar.

Notifikasi promo:
“BONUS DEPOSIT TERAKHIR HARI INI.”

Arya menutup mata.

Di satu sisi, ada suara kecil yang berbisik: Berhenti sekarang. Pulang. Tidur. Cari kerja tambahan. Telepon ibumu.

Di sisi lain, suara yang lebih keras berteriak: Sekali lagi. Kali ini pasti balik modal.

Arya membuka mata.

Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa setiap langkah kecil ini sedang menyeretnya menuju jurang yang lebih dalam. Tapi ia juga tahu, belum hari ini ia berani melompat keluar.

Ia mengetik nominal deposit terakhir yang ia miliki.

Dan di saat itulah, tanpa ia sadari, perjalanan panjang hidupnya benar-benar dimulai—perjalanan yang akan mempertemukannya dengan cinta sejati, kehilangan, kehancuran, dan pada akhirnya… kesempatan untuk bangkit.

Namun sebelum semua itu, Arya harus jatuh terlebih dahulu.

Dan kejatuhan itu baru saja dimulai.


Bab Berikutnya 👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)