Penulis : W.K Orion BAB 3 PERMAINAN YANG LEBIH GELAP Langkah Adrian terhenti tepat beberapa meter dari pria berjas abu-abu itu. Suasana di sekitar mereka terasa berubah. Beberapa orang yang tadi masih duduk santai mulai memperhatikan. Insting mereka mengatakan—ini bukan sekadar permainan biasa lagi. Pria berjas abu-abu itu perlahan berbalik. Tatapannya tenang seperti sebelumnya. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sedikit lebih tajam. Sedikit lebih waspada. “Masih belum puas?” tanyanya ringan. Adrian berdiri tegak. Tatapannya lurus. “Kita main lagi.” kata Adrian. Beberapa orang di sekitar meja mulai berbisik. Riko yang berdiri di belakang Adrian langsung menarik lengannya pelan. “Sudah, jangan,” bisiknya. “Kita pergi saja.” Namun Adrian tidak bergerak. Ia bahkan tidak menoleh. Fokusnya hanya pada satu orang. Pria itu. Pria yang baru saja mengambil bukan hanya uangnya… tapi juga harga dirinya. “Taruhan terakhir,” lanjut Adrian. “Satu lawan satu.” Pria berjas itu mengangkat ali...
Penulis : W.K Orion BAB 1 MALAM YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SUNYI Lampu neon berkelap-kelip memantul di kaca mobil sport hitam yang meluncur pelan di jalanan Jakarta Selatan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bagi sebagian orang, hari sudah hampir berakhir. Namun bagi Adrian Mahendra, malam baru saja dimulai. Ia memarkir mobilnya di depan sebuah klub malam eksklusif yang sudah sangat ia kenal. Musik elektronik yang berdentum terdengar bahkan sebelum ia membuka pintu mobil. Di atas pintu masuk, papan neon bertuliskan “Eclipse Lounge” menyala terang. Adrian melangkah keluar dari mobil. Tubuhnya tinggi dan atletis, mengenakan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka sedikit. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya tajam. Percaya diri. Beberapa wanita yang sedang mengantre masuk langsung melirik ke arahnya. Salah satu dari mereka bahkan berbisik kepada tema...
Penulis : W.K Orion BAB 4 TAMU YANG TIDAK DI UNDANG Mesin mobil Adrian mati tepat saat ia memasuki area parkir basement apartemennya. Sunyi. Hanya suara mesin kendaraan lain yang sesekali lewat dan gema langkah kaki dari kejauhan. Ia duduk beberapa detik di balik kemudi. Tangannya masih menggenggam setir. Pikirannya belum benar-benar lepas dari apa yang terjadi malam ini. Meja poker. Pria berjas abu-abu. Sinyal dari balkon. Pesan misterius. Dan Alya. Terutama Alya. Wanita itu datang tiba-tiba, tahu terlalu banyak, lalu pergi seolah semuanya bukan urusannya. Namun kata-katanya terus terngiang. “Kau baru saja masuk.” Adrian menghela napas panjang. “Masuk ke apa?” gumamnya pelan. Ia membuka pintu mobil dan keluar. Udara basement terasa dingin. Langkahnya mantap menuju lift. Setiap langkah terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan karena lelah. Tapi karena pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak ia sukai. Lift terbuka. Adrian masuk. Menekan tombol lantai atas. Pi...
Komentar
Posting Komentar