DI UJUNG MEJA TARUHAN (BAB 2)

 

Penulis : W.K Orion

BAB 2
UANG YANG TIDAK PERNAH CUKUP

Pagi datang tanpa pernah bertanya apakah seseorang siap menerimanya atau tidak.

Arya terbangun di kamar kosnya dengan kepala berat dan tenggorokan kering. Cahaya matahari menyusup lewat celah gorden yang sudah lama tidak ia cuci, menyoroti debu-debu halus yang melayang di udara. Ia memejamkan mata lagi, berharap bisa kembali tidur dan melupakan segalanya, tapi pikirannya sudah terlanjur penuh.

Yang pertama muncul bukan rasa lapar atau rencana hari ini, melainkan satu angka.

Saldo.

Arya meraba-raba ponselnya di atas kasur, membuka aplikasi yang semalam menjadi alasan ia pulang hampir pagi. Angka itu masih ada. Tidak bertambah. Tidak berkurang.

Rp187.000.

Ia menatap layar lama, seolah berharap angka itu berubah karena tatapan cukup lama. Tapi seperti hidupnya, saldo itu keras kepala.

“Cuma segini…” gumamnya.

Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi sempit, menyalakan keran, dan membasuh wajah. Pantulan dirinya di cermin membuatnya berhenti. Mata merah, rahang berbayang janggut tipis yang tak terurus, dan ekspresi kosong—ekspresi seseorang yang sudah terlalu lama kalah namun masih berharap menang.

Dulu, Arya selalu bangun pagi dengan rutinitas sederhana: mandi, sarapan seadanya, berangkat kerja sambil mendengarkan radio. Tidak mewah, tidak juga menyedihkan. Hidup terasa lurus dan masuk akal.

Sekarang, setiap pagi dimulai dengan pertanyaan yang sama: masih bisa main atau tidak hari ini?

Ia mengenakan kaus hitam dan celana jeans, lalu duduk di tepi kasur. Pikirannya berputar, menimbang kemungkinan. Dengan uang sisa ini, ia bisa makan dua hari. Atau satu kali deposit.

Satu kali.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di kepala Arya, itu seperti pintu kecil yang selalu terbuka menuju dunia yang berkilau—meski di baliknya hanya ada lubang yang makin dalam.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor yang sudah ia hafal luar kepala.

Ibu.

“Arya, kamu baik-baik saja? Ibu nelpon kemarin tapi nggak diangkat.”

Arya menutup mata. Rasa bersalah itu muncul, menekan dadanya pelan tapi pasti. Ia membayangkan wajah ibunya di rumah, duduk di kursi kayu tua, memandangi ponsel sambil berharap anaknya baik-baik saja di kota.

Ia mengetik balasan singkat:

“Maaf Bu, kemarin lembur. Nanti Arya telpon.”

Kebohongan kecil. Lagi.

Ia meletakkan ponsel, berdiri, dan berjalan keluar kos. Udara pagi terasa lembap. Kota sudah sibuk, orang-orang bergerak dengan tujuan yang jelas. Arya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti langkahnya sendiri.

Ia berhenti di warung kopi pinggir jalan. Memesan kopi hitam tanpa gula. Saat menyeruputnya, pahit itu terasa jujur—tidak seperti hidupnya yang penuh ilusi.

Di meja seberang, dua pria berbincang soal pekerjaan dan cicilan. Arya mendengarkan sepintas. Kata “gaji” dan “target” membuat perutnya terasa kosong.

Ia belum dibayar bulan ini. Bosnya sudah dua kali mengingatkan soal keterlambatan masuk kerja. Arya tahu, jika ia terlambat sekali lagi, posisinya bisa digantikan siapa saja.

“Ah,” ia menghela napas, “nanti juga beres.”

Kalimat yang sama. Selalu.

Siang hari, Arya akhirnya masuk kantor. Ruangan ber-AC itu terasa dingin, tapi tidak mampu menenangkan pikirannya. Komputer menyala, pekerjaan menumpuk, namun pikirannya melayang ke tempat lain.

Ia membuka spreadsheet, tapi jarinya justru mengetik alamat situs yang sudah ia hafal. Ia cepat-cepat menutupnya ketika seseorang lewat di belakang.

“Fokus, Ry,” gumamnya pada diri sendiri.

Tapi fokus tidak pernah semudah itu.

Setiap bunyi notifikasi, setiap detik waktu luang, pikirannya kembali ke satu hal: bagaimana caranya uang itu kembali?

Sore hari, saat jam kerja hampir selesai, ponselnya kembali bergetar.

Luna.

“Malam ini kamu free?”

Arya tersenyum tipis. Luna selalu muncul di waktu yang tepat—atau justru di waktu yang salah.

“Mungkin.” balasnya.

Tak lama, pesan lain masuk.

“Aku lagi pengen minum. Datang aja.”

Arya menutup ponsel. Ia tahu malam ini akan berakhir seperti apa. Minuman, sentuhan, tawa kosong, lalu kembali ke titik nol.

Namun sebelum itu, pikirannya kembali ke saldo.

Rp187.000.

Jika ia menang sedikit saja, semuanya akan terasa lebih ringan. Makan, minum, bahkan Luna akan terasa seperti hadiah, bukan pelarian.

Jam enam sore, Arya pulang lebih cepat. Di kamar kos, ia duduk di depan ponsel. Jarinya menggantung di atas layar.

Ini yang terakhir, katanya dalam hati.

Ia memasukkan nominal deposit.

Rp150.000.

Saldo masuk. Angka hijau muncul. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Bismillah,” gumamnya, meski ia sendiri tak yakin pada siapa ia berdoa.

Putaran pertama. Kalah.
Putaran kedua. Menang kecil.
Putaran ketiga. Kalah lagi.

Arya mulai condong ke depan, napasnya memendek. Setiap putaran seperti denyut nadi yang memukul kepala.

Saldo naik sedikit. Turun lagi. Naik. Turun.

“Sedikit lagi,” katanya keras-keras.

Ia lupa waktu. Lupa sore. Lupa Luna. Lupa ibunya. Yang ada hanya layar dan suara mesin digital yang dibuat untuk terdengar ramah.

Sampai akhirnya…

Saldo: Rp12.400.

Arya terpaku. Matanya panas. Tenggorokannya tercekat.

“Hah…?”

Ia memeriksa ulang. Tidak salah. Uangnya hampir habis.

“Bangsat…”

Ia melempar ponsel ke kasur, menutup wajah dengan kedua tangan. Dadanya naik turun. Bukan karena marah, tapi karena takut. Takut pada kenyataan bahwa ia baru saja mengulang kesalahan yang sama.

Ponselnya bergetar lagi.

Luna.

“Kamu ke mana? Aku nunggu.”

Arya tidak langsung membalas. Ia duduk lama, memandangi dinding. Dalam diam, ia menyadari sesuatu yang menakutkan: ia bukan lagi bermain untuk menang. Ia bermain karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan dengan hidupnya.

Akhirnya ia membalas:

“Maaf, aku nggak bisa.”

Luna membaca, tapi tidak langsung menjawab.

Arya berbaring, menatap langit-langit. Kamar terasa semakin sempit.

Malam itu, Arya memutuskan keluar sendirian. Ia berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya duduk di bangku taman kota. Lampu jalan memantul di genangan air. Kota tetap hidup, seolah tidak peduli pada kekalahan seseorang.

Ia menyalakan rokok terakhirnya.

Saat itulah, suara yang tidak ia duga memanggil namanya.

“Arya?”

Ia menoleh.

Jantungnya seperti berhenti.

Di bawah cahaya lampu taman, berdiri seorang perempuan dengan jaket krem dan rambut diikat sederhana. Wajahnya lebih dewasa, tapi tatapan itu—tatapan yang sama yang pernah ia kenal sangat baik.

“Naya…” suaranya hampir tak keluar.

Naya tersenyum kecil, canggung. “Kamu kelihatan… kurusan.”

Arya tertawa kering. “Kamu kelihatan… baik.”

Mereka berdiri berhadapan, canggung, seperti dua orang asing yang pernah saling mengenal terlalu dekat. Ada jarak yang tidak terlihat tapi terasa jelas.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Naya.

“Cuma… jalan.”

“Kamu masih di kos yang dulu?”

Arya mengangguk. Ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.

Hening menyelimuti mereka. Hening yang berat oleh hal-hal yang tidak pernah selesai.

“Arya,” kata Naya akhirnya, “kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan.

Ia ingin berkata iya. Ia ingin berbohong. Tapi untuk pertama kalinya malam itu, ia kelelahan untuk berpura-pura.

Ia mengangkat bahu. “Nggak tahu.”

Naya menatapnya lama. Ada rasa khawatir di matanya. Juga kekecewaan yang tidak sepenuhnya hilang.

“Kamu masih… main itu?” tanyanya pelan.

Arya terdiam.

Jawabannya sudah ada di wajahnya.

Naya menghela napas. “Kamu belum berubah.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghancurkan.

“Aku mencoba,” kata Arya, lebih kepada dirinya sendiri.

“Mencoba itu bukan jatuh ke lubang yang sama berulang kali,” jawab Naya lirih. “Aku harap kamu sadar sebelum terlambat.”

Ia pamit, berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Arya duduk kaku di bangku taman. Kata-kata Naya menggema di kepalanya, bercampur dengan suara mesin slot, pesan Luna yang belum terbaca, dan wajah ibunya yang selalu menunggu.

Malam itu, Arya pulang dengan langkah berat.

Ia tahu, hidupnya sedang berada di persimpangan yang berbahaya.

Dan ia belum yakin ke arah mana ia akan melangkah. 


👈Bab Sebelumnya                                                                                Bab Selanjutnya👉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 3)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 1)

DI ANTARA DOSA DAN CINTA (BAB 4)