DI UJUNG MEJA TARUHAN (BAB 3)
BAB 3
HUTANG PERTAMA, KEBOHONGAN PERTAMA
Pagi itu, Arya bangun dengan perasaan asing yang menekan dada. Bukan mabuk, bukan lelah—melainkan campuran rasa malu, takut, dan satu kata yang berputar-putar di kepalanya sejak semalam.
Naya.
Ia duduk di tepi kasur, memandangi lantai yang dingin. Percakapan singkat di taman itu terus terulang di kepalanya. Cara Naya menatapnya. Nada suaranya yang lembut tapi tegas. Kalimat sederhana yang terasa seperti vonis.
Kamu belum berubah.
Arya mengusap wajahnya kasar. Ia ingin menyangkal, ingin membuktikan bahwa ia tidak separah itu. Tapi realitas tidak memberinya banyak ruang untuk membela diri.
Ia meraih ponsel.
Saldo rekening: Rp31.800.
Ia tertawa kecil. Tawa pendek, kering, nyaris histeris.
“Lucu,” gumamnya. “Hidupku lucu.”
Ponselnya menunjukkan jam delapan pagi. Ia seharusnya sudah berangkat kerja setengah jam lalu. Arya bangkit tergesa, mandi seadanya, dan mengenakan pakaian paling rapi yang masih tersisa. Kemeja itu sudah agak kusut, tapi ia tidak punya pilihan.
Di jalan menuju kantor, Arya merasa setiap orang yang ia lewati bisa melihat kegagalannya. Seolah tulisan pecundang terpampang jelas di dahinya. Ia menunduk, mempercepat langkah.
Kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Beberapa rekan kerja menoleh sekilas saat Arya masuk. Ada tatapan heran, ada juga yang biasa saja. Tapi Arya tahu, namanya sudah beberapa kali disebut di ruang atasan.
Ia duduk di mejanya, menyalakan komputer, mencoba bekerja. Tapi pikirannya tidak berhenti melompat. Setiap angka di layar mengingatkannya pada angka lain—angka saldo, angka taruhan, angka kekalahan.
Sekitar pukul sepuluh, ponselnya bergetar.
Luna.
Arya menatap nama itu lama sebelum membuka pesannya.
“Kamu kenapa kemarin? Biasanya kamu nggak gitu.”
Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi.
“Capek.”
Balasan Luna datang cepat.
“Capek apa bokek?”
Arya tersenyum pahit. Luna selalu terlalu jujur.
“Dua-duanya.”
Ada jeda cukup lama sebelum Luna membalas.
“Datang ke tempat aku nanti malam. Kita ngobrol.”
Arya ingin menolak. Tapi bagian dirinya yang lain—bagian yang takut sendirian—mengangguk tanpa ragu.
“Iya.”
Ia mematikan layar ponsel dan memijat pelipisnya. Masalah belum selesai, tapi satu hal pasti: ia tidak punya uang.
Sore hari, Arya dipanggil ke ruang atasan. Jantungnya berdegup cepat saat pintu tertutup di belakangnya.
“Arya,” kata pria paruh baya itu sambil menatap berkas, “kamu tahu kenapa saya panggil?”
Arya mengangguk pelan. “Soal keterlambatan saya, Pak.”
“Atau soal performa kerja kamu yang menurun drastis?” lanjut atasannya, kali ini menatap langsung.
Arya terdiam.
“Kami butuh orang yang fokus,” kata pria itu. “Kalau kamu punya masalah pribadi, selesaikan. Jangan bawa ke sini.”
“Iya, Pak. Maaf.”
“Atau,” ia berhenti sejenak, “kami akan cari pengganti.”
Kata pengganti menggema di kepala Arya. Ia mengangguk cepat. “Saya akan perbaiki, Pak. Janji.”
Keluar dari ruangan itu, kaki Arya terasa lemas. Ancaman kehilangan pekerjaan terasa lebih nyata dari sebelumnya. Tanpa pekerjaan, ia benar-benar tidak punya apa-apa.
Dan ironisnya, pikiran pertama yang muncul bukan bagaimana memperbaiki hidup, melainkan:
Kalau aku bisa menang sekali saja…
Arya menepuk wajahnya sendiri. “Stop,” bisiknya.
Malam datang terlalu cepat.
Arya berdiri di depan apartemen Luna dengan perasaan campur aduk. Ia menekan bel. Pintu terbuka, Luna berdiri dengan ekspresi datar.
“Kamu kelihatan kacau,” kata Luna tanpa basa-basi.
“Aku tahu.”
Mereka duduk di sofa. Tidak ada minuman keras malam itu, hanya dua cangkir kopi yang mulai dingin. Hening terasa berat.
“Aku ketemu mantan aku semalam,” kata Arya tiba-tiba.
Luna mengangkat alis. “Yang namanya Naya itu?”
Arya mengangguk.
“Terus?”
“Dia bilang aku belum berubah.”
Luna tersenyum tipis. “Dia nggak salah.”
Kalimat itu menusuk, tapi Arya tidak membantah.
“Kamu butuh uang, kan?” tanya Luna kemudian.
Arya menoleh. “Apa?”
“Kamu kelihatan kayak orang yang kehabisan opsi.”
Arya tertawa getir. “Kalau kamu mau ceramah, aku bisa pulang.”
Luna mendekat, suaranya merendah. “Aku nggak ceramah. Aku cuma jujur.”
Ia berdiri, berjalan ke meja kecil, mengambil tas. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang.
Arya terpaku.
“Ambil,” kata Luna santai.
“Apa maksud kamu?”
“Pinjam,” Luna menekankan kata itu. “Bukan gratis.”
Arya menelan ludah. “Berapa?”
“Dua juta.”
Angka itu membuat dada Arya menghangat sekaligus mual.
“Aku nggak bisa balikin cepat,” katanya jujur.
Luna tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Arya menatap uang itu lama. Di kepalanya, suara peringatan berteriak. Ini salah. Ini awal dari sesuatu yang lebih buruk.
Tapi suara lain lebih keras.
Dengan uang ini, aku bisa balik modal. Aku bisa bernapas lagi.
Ia mengulurkan tangan.
“Syaratnya satu,” kata Luna.
Arya berhenti. “Apa?”
“Jangan bohong ke aku. Kalau kamu pakai buat judi, bilang.”
Arya ragu sejenak… lalu mengangguk. “Oke.”
Kebohongan pertama dalam utang pertamanya lahir di detik itu.
Di kamar kos, Arya memandangi uang dua juta di atas meja. Jantungnya berdegup cepat, bukan karena takut—melainkan karena harapan.
“Ini kesempatan,” katanya pada diri sendiri.
Ia menyalakan ponsel, membuka aplikasi yang sudah ia hapus dan pasang kembali entah berapa kali. Tangannya bergerak cepat.
Deposit: Rp1.000.000.
“Setengah dulu,” gumamnya. “Kalau kalah, berhenti.”
Putaran pertama: kalah.
Putaran kedua: menang kecil.
Putaran ketiga: menang lagi.
Saldo naik.
Arya duduk lebih tegak. Napasnya cepat.
“Ini dia,” katanya pelan.
Ia terus bermain. Menang. Kalah. Menang besar. Saldo mendekati dua juta lagi.
Keringat dingin mengalir di punggungnya.
“Tarik,” bisik suara kecil di kepalanya.
“Sekali lagi,” teriak suara lain.
Arya menekan spin.
Layar berputar lama.
Berhenti.
Kalah.
Saldo turun drastis.
Arya tertegun. Jari-jarinya gemetar.
“Bisa balik,” katanya. “Bisa.”
Ia bermain lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Sampai akhirnya…
Saldo: Rp0.
Arya menatap layar kosong itu dengan mata tidak berkedip. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Hanya sunyi yang menakutkan.
Ia duduk lama, sangat lama.
Uang Luna habis. Uang itu bahkan tidak sempat membuatnya bernapas lega.
Ia mematikan ponsel, menjatuhkan tubuh ke kasur, dan menatap langit-langit. Rasa sesak merambat dari dada ke tenggorokan.
“Apa yang aku lakukan…?” suaranya pecah.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa takut. Bukan pada kekalahan—melainkan pada dirinya sendiri.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut.
Arya bekerja dengan kepala kosong. Setiap pesan dari Luna membuat perutnya mual. Ia mulai menghindar, membalas singkat, berbohong kecil.
“Aku sibuk.”
“Nanti aku balikin.”
“Tenang aja.”
Kebohongan menumpuk seperti debu.
Suatu sore, ia mendapat pesan lain.
Ibu.
“Arya, ibu butuh bantuan. Kompor rusak. Bisa kirim uang sedikit?”
Arya menatap pesan itu lama. Tangannya bergetar.
Ia tidak punya uang.
Ia hampir mengetik maaf, tapi berhenti. Kata itu terasa terlalu kecil.
Ia menaruh ponsel, menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak lama, air mata jatuh.
Ia sadar, perjudian ini bukan lagi tentang dirinya. Ia mulai menyakiti orang lain.
Dan yang paling menakutkan—ia belum yakin bisa berhenti.
👈 Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya 👉

Komentar
Posting Komentar