DI UJUNG MEJA TARUHAN (BAB 4)
BAB 4
JALAN YANG SEMAKIN SEMPIT
Arya tidak langsung pulang malam itu.
Setelah membaca pesan ibunya, ia duduk lama di bangku taman dekat kos, memandangi lampu jalan yang berpendar kuning pucat. Ponsel tergeletak di sampingnya, layar sudah gelap, tapi kata-kata itu masih menyala di kepalanya.
Ibu butuh bantuan.
Kalimat sederhana yang dulu tidak pernah membuatnya ragu. Dulu, Arya selalu bisa mengirim. Tidak banyak, tapi cukup. Sekarang, bahkan untuk menjawab pun ia tidak punya keberanian.
Ia menyalakan rokok terakhir dari bungkus kosong yang sudah lama ia simpan. Asap tipis mengepul, menyatu dengan udara malam. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang perlahan mencengkeram jantungnya.
“Apa yang aku lakukan…?” gumamnya lagi, kali ini lebih lirih.
Ia pulang ke kos menjelang tengah malam. Kamar terasa lebih sempit dari biasanya. Bau pengap, dinding kusam, dan kasur tipis seolah menertawakan keadaannya. Arya duduk di lantai, bersandar ke ranjang, memejamkan mata.
Tidur tidak datang. Yang datang justru bayangan-bayangan: wajah Luna saat menyerahkan uang, tatapan Naya di taman, suara ibunya di ujung telepon yang tak pernah ia jawab.
Dan di sela semuanya, suara mesin slot yang tidak pernah benar-benar pergi.
Keesokan paginya, Arya bangun dengan kepala berat dan mata perih. Ia melihat jam—pukul enam. Terlalu pagi untuk seseorang yang nyaris tidak tidur. Ia bangkit, mandi, dan berdiri lama di depan cermin.
“Aku harus berhenti,” katanya pada pantulan dirinya.
Kalimat itu terdengar asing. Berat. Seperti janji yang terlalu besar untuk diucapkan sembarangan.
Di kantor, Arya mencoba bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia memaksa dirinya fokus, menyelesaikan tugas satu per satu. Untuk beberapa jam, ia hampir lupa pada segalanya. Hampir.
Sampai ponselnya bergetar.
Luna.
“Kita perlu ngobrol.”
Arya menelan ludah. Ia tahu percakapan ini tidak bisa dihindari lebih lama.
“Nanti malam?” balasnya.
“Sekarang juga bisa. Pulang kantor langsung ke tempat aku.”
Tidak ada emotikon. Tidak ada basa-basi.
Arya menutup mata sebentar. “Baik,” bisiknya, entah pada siapa.
Sore hari, sebelum pulang, Arya menerima pesan lain. Kali ini dari nomor tak dikenal.
“Ini Rudi. Temannya Luna. Dengar kamu minjem uang. Kita ketemu ya.”
Arya membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Rudi.
Ia pernah mendengar nama itu dari Luna. Seorang pria yang selalu tahu cara mendapatkan uang—dan cara menagihnya. Arya belum pernah bertemu langsung, tapi reputasinya cukup untuk membuat perutnya mual.
Ia belum sempat membalas ketika pesan lain masuk.
“Santai aja. Ngopi doang.”
Arya tertawa tanpa suara. Ngopi doang, pikirnya. Dunia orang-orang seperti mereka tidak pernah sesederhana itu.
Apartemen Luna terasa berbeda malam itu. Tidak ada musik, tidak ada minuman. Lampu ruang tamu menyala terang, menyingkap wajah Luna yang tampak lebih dingin dari biasanya.
“Kamu duduk,” kata Luna singkat.
Arya menurut. Mereka berhadapan di sofa, jarak di antara mereka terasa seperti jurang.
“Uang itu,” kata Luna tanpa pengantar, “habis, ya?”
Arya membuka mulut, menutupnya lagi. Tidak ada alasan untuk berbohong. Tidak malam ini.
“Iya,” katanya akhirnya.
Luna menghela napas panjang. “Kamu bilang kamu bakal jujur.”
“Aku…,” Arya terdiam. “Aku kalah.”
“Kalah atau kamu habisin?” tanya Luna tajam.
Arya menunduk. “Aku kalah.”
Hening. Lama.
“Arya,” Luna bersandar ke belakang, menatap langit-langit. “Aku nggak peduli kamu judi atau nggak. Hidup kamu, pilihan kamu. Tapi aku benci dibohongi.”
“Aku minta maaf.”
“Maaf itu nggak balikin uang.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
“Aku bakal ganti,” kata Arya cepat. “Pelan-pelan.”
Luna menatapnya. Ada sesuatu di matanya—bukan marah, bukan benci, melainkan lelah.
“Aku percaya kamu karena kamu kelihatan beda dari cowok-cowok lain,” katanya pelan. “Ternyata sama aja.”
Kalimat itu membuat dada Arya nyeri.
“Rudi bakal datang,” lanjut Luna. “Aku cerita ke dia. Dia mau bantu.”
Arya membeku. “Bantu… gimana?”
“Ngasih kamu waktu. Tapi bukan gratis.”
Arya menelan ludah. “Aku nggak minta ini.”
“Aku juga nggak minta kamu habisin uang itu,” jawab Luna datar.
Ketukan pintu terdengar.
Tiga kali. Pelan, tapi tegas.
Luna berdiri. “Itu dia.”
Rudi masuk dengan senyum tipis. Pria itu bertubuh sedang, rambut rapi, mengenakan kemeja sederhana. Tidak ada kesan preman. Justru itu yang membuatnya menakutkan.
“Ini Arya?” tanya Rudi, suaranya tenang.
Arya berdiri. “Iya.”
Rudi menjabat tangannya. Genggamannya kuat, terlalu lama.
“Duduk,” kata Rudi ramah.
Mereka duduk bertiga. Luna memilih diam.
“Gue denger lo lagi seret,” kata Rudi sambil menyandarkan punggung. “Santai. Semua orang pernah jatuh.”
Arya tidak menjawab.
“Uang dua juta itu,” lanjut Rudi, “bisa gue anggap lunas sementara. Tapi ada bunga.”
“Berapa?” tanya Arya pelan.
“Sepuluh persen. Per minggu.”
Arya merasa kepalanya berputar. “Per minggu?”
“Murah,” kata Rudi santai. “Gue orangnya fleksibel.”
“Kalau nggak bisa bayar?”
Rudi tersenyum, kali ini tanpa kehangatan. “Jangan sampai.”
Luna akhirnya bicara. “Rudi, jangan kasar.”
“Tenang,” jawab Rudi. “Gue cuma jelasin aturan main.”
Aturan main.
Kata itu mengingatkan Arya pada judi. Dan ia sadar, ia baru saja masuk ke permainan lain yang jauh lebih berbahaya.
Malam itu, Arya pulang dengan perasaan hampa. Ia berjalan kaki, membiarkan angin malam memukul wajahnya. Di kepala, angka-angka baru bermunculan: bunga, tenggat waktu, utang yang kini punya wajah dan suara.
Ia sampai di kos, duduk di kasur, dan menatap ponsel. Saldo nol. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Ia membuka pesan ibunya lagi. Lama. Sangat lama.
Akhirnya ia mengetik:
“Bu, Arya lagi susah. Maaf belum bisa kirim. Doain Arya ya.”
Pesan terkirim.
Tak lama, balasan masuk.
“Ibu selalu doain kamu. Jaga diri.”
Kalimat itu membuat dada Arya sesak. Air mata kembali jatuh, kali ini tanpa perlawanan.
Hari-hari berikutnya menjadi lebih berat.
Arya bekerja lebih keras, mengambil lembur, mengerjakan tugas siapa pun yang bisa ia bantu. Ia makan seadanya, sering kali hanya mie instan. Setiap rupiah ia kumpulkan, ia sisihkan.
Namun angka itu bergerak terlalu lambat.
Rudi mengirim pesan setiap dua hari. Tidak mengancam, tapi cukup untuk mengingatkan.
“Gimana, Ry?”
“Jangan lupa ya.”
Luna menjadi lebih dingin. Mereka masih bertemu, tapi jarak di antara mereka semakin terasa. Sentuhan yang dulu penuh gairah kini terasa mekanis, bahkan kadang tidak ada sama sekali.
“Kamu berubah,” kata Luna suatu malam.
“Aku lagi berusaha,” jawab Arya.
“Kamu selalu bilang itu,” Luna tersenyum miris.
Suatu sore, Arya menerima telepon dari nomor tak dikenal.
“Mas Arya?” suara perempuan.
“Iya.”
“Saya dari HR. Kami mau bicara soal kontrak Anda.”
Arya terdiam. “Kenapa, Mbak?”
“Ada evaluasi. Bisa ke kantor besok pagi?”
Telepon itu membuat malam Arya semakin panjang. Ia tahu, ini mungkin tentang peringatan terakhir. Tanpa pekerjaan, ia tidak hanya kehilangan penghasilan—ia kehilangan satu-satunya jalan keluar.
Malam itu, godaan datang lagi.
Arya duduk di kamar, memandangi ponsel. Aplikasi judi itu masih terpasang. Ia belum membukanya sejak kekalahan terakhir, tapi keberadaannya seperti bisikan lembut di telinga.
Kalau menang sekali saja…
Ia menggenggam ponsel erat-erat. Tangannya gemetar.
“Aku nggak boleh,” katanya keras-keras.
Namun pikirannya berkhianat. Dengan uang hasil lembur yang baru ia terima—tidak banyak, tapi cukup untuk satu deposit kecil—ia bisa mencoba. Hanya satu kali. Untuk menutup lubang. Untuk bernapas.
Arya menutup mata.
Dan membukanya kembali dengan keputusan yang sama seperti sebelumnya.
Ia membuka aplikasi.
Putaran pertama: kalah.
Putaran kedua: kalah.
Putaran ketiga: menang kecil.
Arya tersenyum. Harapan itu muncul lagi, seperti candu yang tak pernah mati.
Ia terus bermain, melupakan waktu, melupakan Rudi, melupakan HR, melupakan ibunya.
Sampai akhirnya…
Saldo turun ke angka yang terlalu familiar.
Nol.
Arya membeku. Layar ponsel terasa dingin di tangannya. Ia tidak berteriak. Tidak membanting apa pun. Ia hanya duduk, menatap kekosongan yang ia ciptakan sendiri.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Rudi.
“Besok gue mampir ya. Kita ngobrol.”
Arya menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa terpojok. Jalan di depannya semakin sempit. Setiap langkah yang ia ambil justru menjauhkannya dari cahaya.
Dan di tengah semua itu, satu pertanyaan muncul dengan jelas:
Masih ada jalan pulang, atau aku sudah terlalu jauh?
👈 Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya👉

Komentar
Posting Komentar